
Suaranya membangunkanku. Suara yang menyebalkan. Suara yang pasti akan kurindukan.
Pagi di hari yang hampa rencana itu segera dilanjutkan oleh perjalanan ke hamparan hijau berudara sejuk. Orang menyebut tempat itu “Bandung”.
Seperti burung yang keluar sangkar, kebebasan menerpaku. Kulalui jalan menanjak dan menurun, membiarkan rintik hujan menyentuh kulitku.
Kami menelusuri jalan yang tak pernah sepi oleh pedagang, tiba di sebuah bangunan dengan interior unik yang mengisyaratkan kebebasan. Pilar-pilar tak lagi terikat hukum simetris yang serba lurus.
Tempat yang indah, suasana yang berbeda, kebebasan. Ia pun berbeda.
Aura ringannya menyuntikkan kebahagiaan kepadaku. Aku merasa damai.
Rinduku tuk merasakan hal ini. Bersama dengannya, menghabiskan waktu tanpa beban. Tanpa pertengkaran, tanpa kecurigaan, tanpa tuduhan.
Aku, disini, di dunia yang berbeda ini, bersama pribadi yang lama kurindukan.
Pribadi yang kukagumi lalu kubenci. Pribadi yang seolah menolak kasih sayangku karena penghakimannya lebih besar. Pribadi yang kesombongannya memertahankan eksistensi kami berdua.
Pribadi yang paling berharga dalam hidupku, namun ku tak tahu bagaimana memberitahu betapa berharganya dia. Ego ku terlalu berat untuk itu.
Apalah itu, yang terpenting, hari ini, di suasana yang berbeda ini, kami bergenggaman tangan, menelusuri tempat yang disebut banyak orang “Bandung”.
_One sweet moment with my Mom_
