Hai, nama gue Ann. Di kampus gue dikenal sebagai si IP 4. Teman-teman gue menganggap gue jenius, si manusia yang suka duduk manis pas pelajaran, mencatat setiap detail yang dosen ajarin.
Tapi asal tahu aja, mereka tuh sok tahu.
Gue suka ngobrol, menggambar, dan ga terlalu konsen juga kok pas pelajaran. Gue tipe orang yang urakan dan rada rebel. Tapi satu hal yang pasti, gue selalu bertanggung jawab sama kewajiban gue. Kalaupun gue suka breaking some rules, gue punya alasan kenapa gue melakukan itu.
Gue bukan berasal dari keluarga yang kaya, gue bahkan numpang di rumah saudara gue. Gue kuliah di Jakarta, sementara gue tinggal di bekasi.
Tiap ada jadwal kuliah, gue harus bolak-balik naik motor atau bus. Cape? Pasti.
Menjelang ujian, di kampus udah bukan hal yang aneh kalau banyak yang nanya catatan sama gue. Kalau gue bilang gue ga punya catatan, langsung deh, pandangan "gak percaya" menyerang gue. Aneh... di kampus gue tuh banyak mahasiswa/i yang keadaan ekonominya terjamin, rumah gede, mobil ada, BB gak bisa lepas dari tangan, masa depan terjamin deh, tinggal nerusin usaha nyokap-bokap. Walaupun begitu, ada juga sih, yang senasib sama gue: calon tulang punggung keluarga yang harus mulai karir dari nol. Ngeluh? iya sih, kadang-kadang. Tapi kalau dipikir-pikir... gue jauh lebih beruntung dari mereka! Dengan keadaan gue, gue jadi orang yang ga menyepelekan kuliah, gue punya kemauan untuk sukses, ga ngandelin warisan ortu (yang emang ga ada), dan gue jadi pribadi yang lebih kuat. Gue bersyukur karena Tuhan memberikan gue posisi dimana gue bukanlah mahasiswi yang ke kampus cuma buat fashion show, walaupun gue bisa merancang baju.
Tapi asal tahu aja, mereka tuh sok tahu.
Gue suka ngobrol, menggambar, dan ga terlalu konsen juga kok pas pelajaran. Gue tipe orang yang urakan dan rada rebel. Tapi satu hal yang pasti, gue selalu bertanggung jawab sama kewajiban gue. Kalaupun gue suka breaking some rules, gue punya alasan kenapa gue melakukan itu.
Gue bukan berasal dari keluarga yang kaya, gue bahkan numpang di rumah saudara gue. Gue kuliah di Jakarta, sementara gue tinggal di bekasi.
Tiap ada jadwal kuliah, gue harus bolak-balik naik motor atau bus. Cape? Pasti.
Menjelang ujian, di kampus udah bukan hal yang aneh kalau banyak yang nanya catatan sama gue. Kalau gue bilang gue ga punya catatan, langsung deh, pandangan "gak percaya" menyerang gue. Aneh... di kampus gue tuh banyak mahasiswa/i yang keadaan ekonominya terjamin, rumah gede, mobil ada, BB gak bisa lepas dari tangan, masa depan terjamin deh, tinggal nerusin usaha nyokap-bokap. Walaupun begitu, ada juga sih, yang senasib sama gue: calon tulang punggung keluarga yang harus mulai karir dari nol. Ngeluh? iya sih, kadang-kadang. Tapi kalau dipikir-pikir... gue jauh lebih beruntung dari mereka! Dengan keadaan gue, gue jadi orang yang ga menyepelekan kuliah, gue punya kemauan untuk sukses, ga ngandelin warisan ortu (yang emang ga ada), dan gue jadi pribadi yang lebih kuat. Gue bersyukur karena Tuhan memberikan gue posisi dimana gue bukanlah mahasiswi yang ke kampus cuma buat fashion show, walaupun gue bisa merancang baju.
Ada hal yang masih bikin gue serba salah...
Di satu sisi, gue kuliah demi mengejar beasiswa, bukan prestise sebagai penerima beasiswa itu sendiri. Gue cuma mau meringankan biaya kuliah yang ga sebanding sama ilmu yang gue dapet. Jelas, gue ga mau jadi volunteer buat para parasit menjelang ujian. Gue tumbuh menjadi orang yang penuh perhitungan dalam pekerjaan gue. If you want something from me, then give me something, or at least, give me a right reason to help you.
Masalahnyaaaa.... namanya juga parasit, pada mau enaknya aja deh. Hidup gue yang lebih butuh usaha untuk dijalani tetap bisa membuat gue bertanggung jawab sama pekerjaan gue sebagai mahasiswi. Kenapa mereka yang hidupnya jauh lebih secure dari gue malah cuma bisa jadi parasit? Well, mungkin itu keadilan dari Tuhan. Tapi masa sih? Bukannya justru selesai kuliah mereka udah bisa dapet jabatan terpandang di perusahaan ortu mereka? Sementara gue harus cari lowongan kerja, lamar, n interview? Bukannya mereka yang cuma modal make-up tanpa otak bisa langsung punya suami yang kaya, tinggal diem di rumah, mondar-mandir salon deh...? Bwahahaha...
Apa itu cuma di sinetron?
Di satu sisi, gue kuliah demi mengejar beasiswa, bukan prestise sebagai penerima beasiswa itu sendiri. Gue cuma mau meringankan biaya kuliah yang ga sebanding sama ilmu yang gue dapet. Jelas, gue ga mau jadi volunteer buat para parasit menjelang ujian. Gue tumbuh menjadi orang yang penuh perhitungan dalam pekerjaan gue. If you want something from me, then give me something, or at least, give me a right reason to help you.
Masalahnyaaaa.... namanya juga parasit, pada mau enaknya aja deh. Hidup gue yang lebih butuh usaha untuk dijalani tetap bisa membuat gue bertanggung jawab sama pekerjaan gue sebagai mahasiswi. Kenapa mereka yang hidupnya jauh lebih secure dari gue malah cuma bisa jadi parasit? Well, mungkin itu keadilan dari Tuhan. Tapi masa sih? Bukannya justru selesai kuliah mereka udah bisa dapet jabatan terpandang di perusahaan ortu mereka? Sementara gue harus cari lowongan kerja, lamar, n interview? Bukannya mereka yang cuma modal make-up tanpa otak bisa langsung punya suami yang kaya, tinggal diem di rumah, mondar-mandir salon deh...? Bwahahaha...
Apa itu cuma di sinetron?
Hidup emang ga harus dimengerti. Jalanin aja, pasrah sama Tuhan, dan biarkan diri kita dibentuk oleh kehendakNya, bukan kehendak kita. Amiiiinnn....
No comments:
Post a Comment