Aku terbangun di pagi hari yang sejuk.
Ku berharap tuk menghirup udara yang segar.
Tapi itu hanyalah harapan.
Bau rokok memasuki tenggorokan dan bermain-main di dalam paru-paruku.
Aku benci aroma ini. Benci, benci, benci.
Ketika teman, atau siapa sajalah, SELAIN ibuku yang merokok, aku tidak membenci aroma yang mereka keluarkan dari mulut neraka mereka. Tapi ketika asap dan bau itu keluar dari mulut ibuku. YES! I HATE IT!
Itu karena... aku mencintainya. Aku cemburu pada asap dan bau rokok itu.
Mereka yang terbalut dalam balutan kertas putih, dikemas dalam kotak kecil hijau bertuliskan Dunhill, dapat begitu intim dengan ibuku. Sementara aku...
ingin memeluknya tanpa sebab pun aku gengsi. Aku tidak terbiasa.
Pelukan, belaian, kata-kata manis seperti "I love you, Mom" tidak ada di dalam kamus hidupku.
Aku hanya tidak terbiasa.
Ibuku sibuk bekerja ketika aku kecil, ketika aku remaja, dan akhirnya ia asik dengan dunianya sendiri ketika aku dewasa.
Kami dekat, berbicara setiap hari, bertengkar setiap hari bila perlu.
Namun... sedikit sekali waktu berkualitas bagi kami untuk berkomunikasi verbal. Apakah itu perlu,
anyway?
Aku takkan melupakan saat ibuku menarikku untuk memeluknya ketika ia bahkan tidak tahu aku hampir terjatuh karena tertidur di motor. Aku tidak akan melupakan betapa indahnya momen dimana kami berdua menonton pertunjukkan Aladdin. Aku akan selalu mengingat sentuhannya ketika aku sakit (itu menyebabkan saat-saat sakit terkadang menjadi saat-saat favoritku). Aku tidak pernah keberatan dinilai manja oleh teman-temanku ketika aku diantar-jemput ibuku. Aku tidak akan melupakan betapa cerewet, linglung, dan menyebalkannya ibuku karena terlalu protektif terhadapku.
Aku...tidak akan melupakan... bau rokok yang setiap pagi kubenci.
Aku benci. Ya, benci bau itu. Tapi... ku tahu ku akan merindukannya. Aku tidak akan melupakannya. Karena itu telah menjadi bagian dari ibuku, itupun akan menjadi bagian dari hatiku. Dan pada akhirnya.... mungkin aku akan mencintai aroma brengsek itu.