Sunday, August 29, 2010


A sweet picture on a brand new paper has been left.
It was like watching a new sun,
you were so beautiful.

A weird feeling...
I didn't expect, nor created.
burnt by the love arc.

It was your eyes!
They had something to tell. But it was just too deep for me to discover.
You didn't let me in.

My stupid heart kept telling me to wait.
crawling in the darkness.
Until I decided to surender.

I could let the wind know I'd go crazy for you.
But I just couldn't let my self fall into pieces, smaller by the day.
Oh! I needed a new day.

Well, here I am.
Far from perfection, has no direction.
But I'm gonna stand up.

Step into a new day.
Breathe the new air.
Without you.





Sunday, August 15, 2010

About the greatest woman in ANN'S life...

Aku terbangun di pagi hari yang sejuk.
Ku berharap tuk menghirup udara yang segar.
Tapi itu hanyalah harapan.

Bau rokok memasuki tenggorokan dan bermain-main di dalam paru-paruku.
Aku benci aroma ini. Benci, benci, benci.
Ketika teman, atau siapa sajalah, SELAIN ibuku yang merokok, aku tidak membenci aroma yang mereka keluarkan dari mulut neraka mereka. Tapi ketika asap dan bau itu keluar dari mulut ibuku. YES! I HATE IT!

Itu karena... aku mencintainya. Aku cemburu pada asap dan bau rokok itu.
Mereka yang terbalut dalam balutan kertas putih, dikemas dalam kotak kecil hijau bertuliskan Dunhill, dapat begitu intim dengan ibuku. Sementara aku...

ingin memeluknya tanpa sebab pun aku gengsi. Aku tidak terbiasa.
Pelukan, belaian, kata-kata manis seperti "I love you, Mom" tidak ada di dalam kamus hidupku.

Aku hanya tidak terbiasa.

Ibuku sibuk bekerja ketika aku kecil, ketika aku remaja, dan akhirnya ia asik dengan dunianya sendiri ketika aku dewasa.

Kami dekat, berbicara setiap hari, bertengkar setiap hari bila perlu.

Namun... sedikit sekali waktu berkualitas bagi kami untuk berkomunikasi verbal. Apakah itu perlu, anyway?

Aku takkan melupakan saat ibuku menarikku untuk memeluknya ketika ia bahkan tidak tahu aku hampir terjatuh karena tertidur di motor. Aku tidak akan melupakan betapa indahnya momen dimana kami berdua menonton pertunjukkan Aladdin. Aku akan selalu mengingat sentuhannya ketika aku sakit (itu menyebabkan saat-saat sakit terkadang menjadi saat-saat favoritku). Aku tidak pernah keberatan dinilai manja oleh teman-temanku ketika aku diantar-jemput ibuku. Aku tidak akan melupakan betapa cerewet, linglung, dan menyebalkannya ibuku karena terlalu protektif terhadapku.

Aku...tidak akan melupakan... bau rokok yang setiap pagi kubenci.
Aku benci. Ya, benci bau itu. Tapi... ku tahu ku akan merindukannya. Aku tidak akan melupakannya. Karena itu telah menjadi bagian dari ibuku, itupun akan menjadi bagian dari hatiku. Dan pada akhirnya.... mungkin aku akan mencintai aroma brengsek itu.

From Treacherous Love to Ann (thx to Beatrice Sparks)

"Sepertinya Dad tidak ada lagi kecuali dalam hatiku yang berdarah-darah. Aku bingung kenapa Dad tidak menelepon, menulis surat, atau entah apa. Aku bingung mengapa Dad tidak menginginkanku. Aku ingin bertanya padanya."

"Aku mulai membenci Dad. Bisa-bisanya Dad begitu mementingkan diri sendiri, kejam, dan keji pada Mom dan aku? Kami tidak SEBURUK ITU! Aku sungguh bingung.
Seandainya saja aku bisa tahu apakah aku lebih membencinya daripada menyayanginya atau... lebih menyayanginya daripada membencinya!...Atau... apakah aku memang peduli dengan sedikit perbedaan antara keadaan yang satu dengan yang lainnya itu."

Pieces of Ann's Diary

April, 9th, 1998

Aku menunggunya. Pesta ulang tahunku yang sederhana akan segera dimulai.

Sebentar lagi dimulai.

Well, sudah dimulai.

Ia tak kunjung datang. Aku jarang sekali bertemu dengannya. Wait! aku hanya bertemu dengannya ketika hari ulang tahunku tiba. Perjumpaan singkat yang kutunggu, setiap tahun.
Mom bilang ia akan datang, membawa daging asap favoritku. Well, ga juga sih.
Aku bertanya pada mom apakah ia akan benar-benar datang. Mom meyakinkanku setelah menelepon Dad.

Dad tidak datang. Pesta pun usai.


April, 9th 1999
Ia tak datang.

April, 9th 2000
Tak ada kabar darinya, tentangnya.

April, 9th 2001
Dia absen.

April, 9th 2002
Kali ini aku tahu ia takkan hadir. Untuk selamanya.
Usiaku 13th. Aku bahkan tidak tahu bagaimana wajahnya sekarang. Dia hanya sebuah lubang hitam dalam hatiku, dalam hidupku.

....

Di usiaku yang ke-13...
Seseorang berkunjung ke rumahku. Ia saudara Dad. Aku tidak peduli, mengurung diriku di kamar, seperti biasanya. Tiba-tiba tanteku mengetuk pintu.
Aku benci akan kemampuanku untuk mendeteksi emosi seseorang.
Aku benci melihat sorot mata tanteku ketika ia akan mengatakan sesuatu kepadaku.
Aku benci ketika ia kemudian berkata, "Ann... Ayahmu meninggal."
....

Dengan sombong ku menanggapi, "O yeah?", kemudian tersenyum sinis.

Tanteku menganggapku gila. Ia pun meninggalkan aku. Pintu kamar kembali tertutup. Aku pun berlutut. Menangis.
...