April, 9th, 1998
Aku menunggunya. Pesta ulang tahunku yang sederhana akan segera dimulai.
Sebentar lagi dimulai.
Well, sudah dimulai.
Ia tak kunjung datang. Aku jarang sekali bertemu dengannya. Wait! aku hanya bertemu dengannya ketika hari ulang tahunku tiba. Perjumpaan singkat yang kutunggu, setiap tahun.
Mom bilang ia akan datang, membawa daging asap favoritku. Well, ga juga sih.
Aku bertanya pada mom apakah ia akan benar-benar datang. Mom meyakinkanku setelah menelepon Dad.
Dad tidak datang. Pesta pun usai.
April, 9th 1999
Ia tak datang.
April, 9th 2000
Tak ada kabar darinya, tentangnya.
April, 9th 2001
Dia absen.
April, 9th 2002
Kali ini aku tahu ia takkan hadir. Untuk selamanya.
Usiaku 13th. Aku bahkan tidak tahu bagaimana wajahnya sekarang. Dia hanya sebuah lubang hitam dalam hatiku, dalam hidupku.
....
Di usiaku yang ke-13...
Seseorang berkunjung ke rumahku. Ia saudara Dad. Aku tidak peduli, mengurung diriku di kamar, seperti biasanya. Tiba-tiba tanteku mengetuk pintu.
Aku benci akan kemampuanku untuk mendeteksi emosi seseorang.
Aku benci melihat sorot mata tanteku ketika ia akan mengatakan sesuatu kepadaku.
Aku benci ketika ia kemudian berkata, "Ann... Ayahmu meninggal."
....
Dengan sombong ku menanggapi, "O yeah?", kemudian tersenyum sinis.
Tanteku menganggapku gila. Ia pun meninggalkan aku. Pintu kamar kembali tertutup. Aku pun berlutut. Menangis.
...
No comments:
Post a Comment