Salahkah aku memiliki mimpi?
Aku lahir, sementara saudari kembarku memutuskan untuk menyerah. Itu menandakan aku berhasil untuk memertahankan hidup. Walaupun sepertinya ada yang hilang.
Aku sukses melewati TK, SD, SLTP, dan SMA. Aku mendapatkan label “Si Pendiam Super Jenius” dari teman-temanku dan “Si Diam-diam - Menghanyutkan” dari sahabatku. Hmmm kurasa itu merupakan bentuk kesuksesan yang lain. Aku juga aktif mengikuti lomba dan kegiatan: menari, voli, catur, tae kwon do, bahasa asing, cerdas cermat, dll.
Aku seorang mahasiswi. Aku mendapatkan beasiswa! Aku sukses meringankan beban ekonomi keluarga dan memberikan kebanggaan pada keluarga! Thank God! Aku terobsesi mengoleksi nilai A! Aku cinta huruf “A”!!!!
Aku sering dikagumi. Aku terlihat sombong, pelit, dan dingin.
….
Aku lelah. Segala usaha untuk menjadi yang terbaik, untuk dikagumi, itu hanyalah untuk menutupi lubang hitam dalam diriku. Aku melakukannya untuk orang yang ku cintai.
Untuk dia yang hebat, dia yang menanggung orang tua dan sepuluh orang saudaranya, dia yang dihancurkan pria yang mencuri hatinya, dia yang banyak membantu teman-temannya, dia yang akhirnya ditinggalkan. Dia, ibuku.
Aku menjauhi masalah, bermain di zona yang aman, menjadi pelajar yang baik. Demi dia, wanita agung dalam hidupku. Pria yang menyumbangkan DNA-nya kepada diriku itu telah cukup membuat masalah tanpa ku harus mewarisi keahliannya untuk menyakiti ibuku.
Wanita perkasa itu,
dia yang hanya berbangga sesaat, dia yang tuntutannya semakin besar seiring aku dewasa.
Dia…. Yan g sepertinya sulit untuk ku bahagiakan. Dia yang kebahagiaannya seperti mati bersama kekasih yang memberinya seorang anak perempuan itu. Putri satu-satunya itu.
Aku pun lelah… untuk menjadi yang terbaik, untuk bisa ini-itu tapi untuk apa? Berada di puncak tidak bisa menjamin kebahagiaan.
Aku bahagia justru ketika aku tidak peduli apa penilaian orang, melakukan hal gila, sekedar bernyanyi tidak jelas sambil menelusuri jalan yang diselimuti hiruk pikuk jalanan ibukota. Aku bahagia ketika kasih sayang dan perhatianku diterima orang lain. Orang yang juga merindukan untuk diterima apa adanya.
Aku bahagia ketika aku bebas menjadi diri sendiri, ketika aku jauh dari wanita perkasa itu, wanita yang darahnya mengalir dalam tubuhku yang seperti tak memiliki kehidupan lagi.
Hidup tidak semudah berlogika. Tidak semudah mendapatkan nilai “A” untuk secarik kertas yang disebut “Ijasah”.
Ketika logika bertemu cinta… semua pun tak bisa terduga. Yang pintar menjadi bodoh. Itulah dunia. Ia indah karena tidak semuanya pintar dan benar. Ia indah dengan sejuta perbedaannya.
No comments:
Post a Comment