Friday, February 10, 2012

Another Lesson...

Pernah ngebayangin dunia yang isinya pohon, hewan, serta manusia yang sama?
EWWW...
Pasti bakal Total ngebosenin. zzZZzZz

Baru-baru ini ada kejadian yang lumayan seru.
Di kantor yang baru empat kali gue kunjungi (it means, status gue adalah: Anak Baru), gue sempet adu argumen sama dua orang temen kantor.

Salah satunya adalah orang yang gue pikir adalah teman baik gue, karena kami udah lama kenal, pernah jalan bareng, makan bareng, bahkan tidur bareng.

Gue pikir dia udah kenal gue,
Gue pikir gue udah kenal dia.
But that was wrong.
Butuh waktu seumur hidup untuk mengenal seseorang, right?

INDEED.

Oke, mari jabarkan situasinya...
Gue, si anak baru, nanya ke temen gue itu, yang emang lagi bercanda sama temen kantor yang lain (FIY, mereka ternyata Korean Lover), tentang apa sih RAPAT INTERNAL?

Di kantor lama, rapat internal itu adalah rapat bersama Big Boss untuk mengevaluasi hasil kerja masing2 team, kemudian mencari solusi yang lebih baik untuk proses ke depan. Rapat Internal disini, dihadiri oleh seluruh pihak, kecuali OB, Satpam, dan Resepsionis.

Maka dari itu, gue agak kaget juga, kok rapat internal diadakan pas uda jam pulang kantor? Lalu, apakah semua wajib ikut? Apakah gue SI ANAK BARU diharapkan kehadirannya??? Malah hari itu gue berencana pulang cepet.

Gue tanya, dan dijawab "Gak tau, gak tau" berlanjut dengan "gak bisa, gak bisa" dengan nada nyanyian dan gaya cewek-cewek Korea kalo lagi manggung atau kalo lagi di dalam TV.

Oke... Mereka lagi asik bercanda. Gue maklum, mari ulangi lagi pertanyaannya...

Jawaban verbal dan non verbal pun terulang. Oke.... mari ulangi...

Kali ini, gue menambahkan, "Gue serius."

Jawaban pun tetap sama, walaupun gaya Korea sudah mulai memudar.

Next question: "Elo uda pernah rapat internal sebelumnya?"
Answer: "Udah"

Tarraaaaaa...

Oke, gue gak jadi pulang.

Rapat berlangsung...
dan selesai.

Balik ke ruang kerja, dan gue pun mulai membahas kejadian sebelumnya. Dengan jelas, gue menunjukkan gue gak suka cara mereka menjawab pertanyaan gue.

Tujuan gue adalah memberitahu point of view gue, mengingat gue akan bekerja dalam satu TEAM dengan mereka. Gue gak mau kejadian tadi berulang.

Gue sebenernya sih kecewa sama temen deket gue itu. Gue masih inget banget dia pernah gregetan sama adik cowoknya, yang kalo ditanya "Kenapa kamu suka itu?" terus jawabannya, "Gak tau, pokoknya, aku suka aja."

NAH!
Gue sempet mau bahas itu sih pas kami lagi bahas masalah ini. Tapi berhubung ada orang lain, kayaknya gak enak juga kalo gue bawa-bawa perumpamaan itu.

Gue juga kaget, temen gue yang biasanya tau cara mengkritisi sesuatu dan bukan tipe "Ya udalah", melainkan tipe "Let's finish this problem", tiba-tiba malah minta maaf.

WHAT THE....
Lho lho lho??? Minta maaf buat apa?? Emang gue disini lagi bahas siapa yang salah dan siapa yang benar????
Emangnya gue lagi berusaha untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah???

"Oh! God!" Gue bergumam sambil memandang gak-percaya ke dalam mata temen gue itu.

Saat itu gue tersadar akan sesuatu: Gue GAK kenal dia! hahahaa!!!!

Dan dari point of view dia, gue ngerti kok, kalau dia (sm temen kantor lain yang bersangkutan), mungkin gak tau cara menjelaskan, karena ternyata Rapat Internal di budaya kantor ini adalah varian.
Dari penjelasan mereka bahwa rapat internal itu berubah-ubah, gue ngerti.

Tapi, sebenernya, maksud gue membahas kejadian tadi BUKAN LAGI untuk mendefinisikan APA ITU The-God-Damn Rapat Internal.

Gue cuma mau nanya, kenapa dia--manusia yang gue anggap tau cara jelasin sedikiiiittt aja tentang secuil sejarah dalam hidupnya (karena dia kan uda pernah ngalamin rapat internal itu, masa iya, gak ada gambaran sama sekali waktu itu ngapain aja???)--ngejawab kayak gitu.

Percaya atau gak, gue sebenernya mikirin temen gue itu,--yang sebentar lagi bakal jadi supervisor-- gimana jadinya dia kalo ditanya hal simple tentang pengalaman dia sendiri aja, dia gak bisa jelasin. Gimana nantinya dia bisa handle bawahan or klien kalo jawaban dia begitu? Dengan cara seperti itu? Terkutuklah GilrBand Korea. hahaha!

Tapi, lagi-lagi, gue gak bahas ini. Siapa gue yang berani menggurui dia?? Toh gue gak lebih pinter dan berpengalaman dari dia? So... yang bisa gue lakukan adalah mencoba memberikan dia masukan melalui point of view gue (sampe gue kasih contoh, kalo misalnya ada anak baru nanti, yang menanyakan soal yang sama, gue bakal jawab gimana) walaupun... tenyata di-interpretasikan secara negatif.

Soal temen yang satu lagi, gue gak terlalu peduli sih, dia mungkin ikut sewot karena dia belum terlalu mengenal gue. Apalagi dia emang lagi bad mood dari pagi karena urusan sama abang angkot dan abang bajaj. Plus kerjaannya lagi numpuk.

Selanjutnya, mereka terus-terusan menerangkan bahwa mereka sendiri GAK TAU Rapat Internal bakalan ngapain aja. Kalo mereka tau, mereka pasti ngasih tau gue.

OMIGOD... YES, LADIES, gue ngerti pandangan kalian. Yang secara sadar, gue tangkep, uda berkembang ke arah yang lebih negatif: gue maybe dianggap membesar-besarkan masalah kecil, gue dianggap tipe yang terlalu berhati-hati. Mereka nasehatin gue biar enjoy aja, jalanin aja, learning by doing.

Yang gue GAK ngerti adalah... kenapa mereka bersikap DEFENSIF? Seolah mempertahankan diri dari serangan gue, padahal maksud gue, gue mau kami semua tuh solid ketika mencari solusi nantinya. I know this sounds like a bullshit or teoretis. Tapi emang tujuan gue adalah itu.


Dan lagi-lagi, gue kecewa sama temen baik gue yang bersikap seakan dia gak kenal gue dan baru sekali ini ngobrol sama gue. Gue sempet mikir, "Ni anak seharusnya tau-lah, gue bukan tipe pencari masalah, buat apa gue ngebahas hal yang gue anggap gak penting?"

Saat itu... gue sadar, kelulusan gue sebagai Mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi gak nolong banyak. HA-HA.

Doh!
Selanjutnya.... masalah pun berhenti (gak yakin uda selesai apa belom, tapi yang jelas, masalah itu berhenti) ketika senior turun tangan. Hmm.. sekarang siapa yang membesar-besarkan masalah sampe melibatkan senior? Salahkan situasi.


Dari kondisi itu... gue belajar banyak.
*Setelah dipikir-pikir, maybe sebaiknya pertanyaan gue bukanlah "Kayak apa sih Rapat Internal" atau "Rapat Internal itu ngapain aja biasanya?"

Maybe it should've been: "Oh... pas rapat internal WAKTU ITU, elo ngapain aja?"
Oke, ini salah gue. Gue sebaiknya lebih berpikir lagi mengenai eksekusi verbal.

*Gue semakin menjunjung tinggi kata "Maaf". Jangan minta maaf untuk hal yang bahkan diri lo sendiri gak tau. Walaupun mungkin maksud lo adalah untuk mengalah, tapi menurut gue, itu justru bisa jadi bibit negatif.

Kata "maaf" yang terlalu gampang untuk diucapkan akan terasa hambar. APALAGI diucapkan untuk kesalahan/ situasi yang sama. So, please, junjung tinggi betapa berharganya permintaan maaf.

Maaf menyelesaikan masalah begitu aja? Gak. Itu bisa jadi justru memupuk kesalahan kecil. Itu bisa jadi justru hanya menunda masalah.

So... lebih baik selesaikan masalah dengan frontal daripada menunda-nya dengan kata "maaf" yang tedengar manis.
PS: Frontal untuk orang-orang yang terlibat aja lho ya, gak usa melibatkan pihak lain lah. Kalo uda dewasa, seharusnya bisa selesain BERSAMA, tanpa memperluas jaringan masalah.

Oke, gue jadi sarkastik. hahaha!

* Well, masing-masing orang berbeda. Itu adalah indah bagi gue yang emang suka sama perbedaan. Perbedaan adalah kekayaan dan seni tersendiri bagi gue. Gue gak menuntut siapapun untuk memiliki PERSEPSI YANG SAMA dengan gue. Tapi, ketika gue bisa mendapatkan persepsi orang lain dan gue anggap orang lain perlu tau point of view gue, gue akan mencoba menjelaskannya.

Nah... yang susah adalah, bagaimana membawa masing-masing pihak untuk membahas masalah DILUAR sudut pandang masing-masing. Inilah mengapa gue mau membahas masalah se-simple "Rapat Internal". Gue pengen tau karakter team gue, mencoba untuk bekerjasama dalam menemukan solusi.


*Gue belajar mengenai budaya timur! Dan ya ampun... selama ini emangnya gue dimaneh??? Amerika? LOL.
Budaya timur gak siap dengan sikap frontal. Semua LEBIH BAIK dikemas dengan penyampaian komunikasi yang lebih lembut, lebih sopan. Perumpamaan yang samar sepertinya akan lebih membantu.
Oke, gue salah lagi disini. Besok-besok gue bakal coba berkomunikasi dengan lebih datar. Salahkan film Hollywood yang mengasuh gueh! hhaaahahaaa

*Gue belajar bahwa... sebagai orang baru, ternyata gue harus menekan semangat gue yang berlebihan untuk mengetahui ini-itu.

*Gue belajar bahwa... malu bertanya, sesat di jalan, kebanyakan nanya, malah bisa-bisa keluar dari jalan.

*Gue belajar bahwa no matter seberapa banyak orang yang gak suka sama diri kita, well, you don't need the whole world to love you.

*Gue belajar untuk tidak berekspektasi p
ada manusia, sekalipun itu adalah teman baik, bahkan belahan jiwa kita.

***

Sekarang gue dan kedua teman tersebut sudah bisa haha-hihi bareng lagi. Semoga masalah di atas justru membuat kami saling kenal dan saling tau cara berinteraksi satu sama lain. Satu hal yang pasti, I won't hate them.
xoxo
Thanks for giving me this lesson(s).




















No comments:

Post a Comment