Sunday, April 22, 2012

Sweet Rainbow Above The Broken Home



Have I lost my faith?
Yes…
Gue percaya Tuhan, tapi sorry, gue gak percaya manusia.
People come and go in this life, and I’m such a horrible lover. Yes, gue tipe orang yang bakal ngebedain mana yang spesial, mana yang biasa. I don’t treat people all the same. Haahaa.. Once you decide to be just regular friends, then I won’t care that much anymore.
BERULANG kali gue berharap sama manusia… hasilnya gak jauh-jauh dari… SAKIT.
Gue berharap satu penjelasan dari bokap, kenapa dia lebih milih cewek lain ketika gue udah ada di dunia. Sebegitu sampah-nya kah gue sama nyokap gue?
But that didn’t happen and won’t happen either. He died already.
Gue berharap bisa menjalin sisterhood dengan para saudari tiri nyokap. Nyokap udah berbaik hati untuk membantu progress pendidikan mereka dengan keadaan yang seadanya, dan balasannya cuma sebaris kalimat menyakitkan, “Emang siapa yang minta dibiayain sekolah?”
Bagus…
Sebaris kalimat tersebut pun akhirnya diikuti tindakan real: mereka lulus, dapet kerja, then leave.
Tai kucing lah sama sisterhood.
Gue berharap bisa menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman dengan cowok yang membawa hal positif ke dalam hidup gue. He seemed to be good, gak kelihatan seperti cowok yang suka mainin cewek, dia buaguz adanya di mata gue lah!
Tapi… ternyata dia cuma jadiin gue bahan EKSPLORASI. Gak lagi-lagi gue mau percaya sama cowok super intelek. Hahaha… Mau yang intelek, mau yang positif, mau yang anak band sampe anak religius, ujung-ujungnya kalo gak bajingan ya banci. Sorry to say, tapi pengalaman gue membenarkan validitas dua kategori untuk cowok tersebut. 
Gue berharap bisa punya hubungan dengan satu atau dua temen yang bisa gue jaga sampe tua. Semacem film Sex and The City lah. Hubungan yang gak sebates tekstual, terbuka, saling berbagi. Ketika gue menemukannya… eh, ternyata gue salah. Ada beberapa orang yang memang cuma bisa dijadiin temen untuk fun. Ketika gue nanya pun, jawabannya kalo gak gantung, ya muter-muter. Apa yang bisa dijalin dari interaksi begitu? Okay… dibawa “fun” aja…
Yes, gue pribadi yang rentan. Apa yang lo harapin dari orang yang tumbuh dari background keluarga kayak gue? Dan tinggal di lingkungan super decisive kayak gue? APA?
Bahwa gue akan ber-positive-thinking ria ke semua orang?
Bahwa gue gak bakal takut membiarkan diri gue jatuh cinta ke cowok yang gak dikenal?
Bahwa gue akan “Take-It-Easy” all the shits that happen around me?
WELL… gue UDAH coba…
Dan gue masih mencoba sebisa mungkin.
Memaafkan? Udah… Bahkan saking capeknya, gue kadang gak terlalu peduli mana yang salah mana yang bener. Untuk bisa melaluinya aja gue udah seneng. Syukur-syukur bisa lupa total.
Ketika gue gak peduli SIAPA yang salah dan benar… you know what? Banyak orang di kantor yang menertawai gue dan bisik-bisik ketika gue melakukan hal yang dianggap salah. Even itu bukan kesalahan gue, kadang gue cuma diem. Saking capek nanggapin atau mikirin. Ahahaha…
Gue terus mencoba….
Mencoba….
Sampai gue gak tau lagi batasan yang ada.
Sampai sepertinya gue sampai ke titik dimana gue… mati rasa.
Gue lupa cara mencintai dengan tulus… gue gak tau apa itu rasanya benar-benar marah… gue gak tau gimana harus seneng… gimana mellow-nya rasa sedih…
Yang gue tau… gue harus mencapai goal. Ketika goal itu udah tercapai, then gue harus cari goal lain.
Goal demi goal… but emotionless
Dear God,
 I feel so robotic. And I’m totally sorry for that… for not knowing how those things should be felt.
Terus? Kenapa gue gak mati aja? Haahaa…
Well, bunuh diri tuh dosa, katanya, entah kata siapa, but damn, gue percaya. See? Masih goblok kan gueh?
Ada yang membuat gue survive… semua hal yang setengah mati gue perjuangin sampai gue memanipulasi diri sendiri dengan sugesti yang gue bangun.
Gue masih ada karena… ketika bokap gue memerlakukan gue sebagai hal yang UNWANTED…. Gue bertahan untuk nyokap yang udah PERJUANGIN gue.
Gue masih ada karena… ketika saudara/I nyokap pergi begitu aja, gue masih punya tante dan sepupu-sepupu yang gue sayang.
Gue masih ada karena… gue punya temen yang butuh orang untuk curhat. Dan gue bersyukur kalau emang gue bisa menjadi titik terang di gelapnya masalah mereka.
Gue masih ada karena… gue percaya sama Tuhan, gak peduli seberapa sering gue “berantem” sama Tuhan karena kenakalan dan my big ego. Hahaa… Gue masih yakin Dia gak akan melihat gue sebagai sampah atau ciptaanNya yang gagal, gak peduli seberapa non-produktifnya gue menurut standard manusia.

Then here I am… enjoying my version of… Happily ever after….



23rd Birthday



9 April 2012
BBM, Twitter, dan Facebook penuh dengan ucapan “Happy Birthday”.
Pagi-pagi, seorang teman yang udah jarang banget ngobrol sama gue, mengirimkan voice note
Isinya: Nyanyian lagu Happy Birthday.
Gue pun langsung senyam senyum hampa. Gue sangat amat menghargai hadiah simpel itu. That was totally sweet. J
Sebelumnya, orang yang sama sibuk nanyain alamat gue. Bukannya gue Ge-Er, tapi rasionalitas gue bilang kalo ni orang mau kirim kado. HAHA!
Well, bukan kado yang gue mau.
Gue pernah hidup makmur dikelilingi ini itu. Waktu kecil sampe SMA, gue sering “dicekokin” hadiah.
Tau apa yang terjadi sama barang-barang itu? Biasanya bakal tergeletak nganggur atau gue kasih lagi ke orang lain. Well, I’m being honest here.
Gue gak tau berterima kasih atau bersyukur? Gak juga.
Sekali lagi, gue bersyukur atas semua itu. Hanya saja… bukan hal itu yang bakal gue simpen di dalam buku kenangan manual di dalam kepala gue.
Ucapan hangat karena teringat, nyanyian ala kadarnya, cara temen-temen gue “menjebak” gue untuk ngasih surprise, dan doa mereka yang gue hargain dan bakal memerkuat kenangan akan mereka di dalam diri gue.
EVEN ucapan basa-basi yang termotivasi dari notifikasi di Facebook (Birthday reminder) pun gue hargai satu per satu, sebisa gue si orang tanpa semangat hidup. Hahaa…
Gue justru agak muak sama budaya kado-mengkado di hari ultah dan Valentine. Hahaha… entah kenapa, kalo dikasih hal bersifat materialisme, itu bikin gue risih.
Jadi… I am so sorry kalau emang kado-kado tersebut gak se-spesial eksistensi si pemberinya itu sendiri.
Jadi… tak usahlah membelikanku hal-hal material. Cukup tingkatin frekuensi chat juga gue udah seneng. Haha…
But anyway… birthday kali ini mengajari gue bahwa mereka yang justru gak terlalu deket sama gue, punya perhatian yang lebih. Mereka yang udah deket sama gue, yang gue kasih perhatian lebih, malah biasa aja. Hahaa… That’s not a big deal, though. See? What goes around comes around. Walaupun gak di waktu yang sama dan oleh orang yang sama.
Hal kecil yang membuat terharu…  J
Dan yeah, toh gue juga gak melakukan apa pun selain satu sekali ucapan hepi bday ke nyokap waktu beliau ulang tahun. Gue malah sibuk di kantor, pulang, cape, molor.
Tapi tau apa yang nyokap bales pas gue ulang tahun? Dia bangun lebih pagi, anterin gue ke halte busway, terus pas gue pulang kantor, uda ada makanan! Nyokap masak! Walaupun semangkok kecil, that was totally sweet…
Thank God…
Thank you all…
I wished this could be the last Birthday of my life…. Haha! Can you believe it? I did!