Have
I lost my faith?
Yes…
Gue percaya Tuhan, tapi sorry, gue gak percaya manusia.
People
come and go in this life, and I’m such a horrible lover. Yes, gue tipe orang yang bakal ngebedain mana yang spesial, mana yang
biasa. I don’t treat people all the same.
Haahaa.. Once you decide to be just
regular friends, then I won’t care that much anymore.
BERULANG kali gue berharap sama manusia…
hasilnya gak jauh-jauh dari… SAKIT.
Gue berharap satu penjelasan dari bokap,
kenapa dia lebih milih cewek lain ketika gue udah ada di dunia. Sebegitu
sampah-nya kah gue sama nyokap gue?
But
that didn’t happen and won’t happen either. He died already.
Gue berharap bisa menjalin sisterhood dengan para saudari tiri
nyokap. Nyokap udah berbaik hati untuk membantu progress pendidikan mereka
dengan keadaan yang seadanya, dan balasannya cuma sebaris kalimat menyakitkan,
“Emang siapa yang minta dibiayain sekolah?”
Bagus…
Sebaris kalimat tersebut pun akhirnya
diikuti tindakan real: mereka lulus,
dapet kerja, then leave.
Tai kucing lah sama sisterhood.
Gue berharap bisa menjalin hubungan yang
lebih dari sekedar teman dengan cowok yang membawa hal positif ke dalam hidup
gue. He seemed to be good, gak
kelihatan seperti cowok yang suka mainin cewek, dia buaguz adanya di mata gue
lah!
Tapi… ternyata dia cuma jadiin gue bahan
EKSPLORASI. Gak lagi-lagi gue mau percaya sama cowok super intelek. Hahaha… Mau
yang intelek, mau yang positif, mau yang anak band sampe anak religius,
ujung-ujungnya kalo gak bajingan ya banci. Sorry
to say, tapi pengalaman gue membenarkan validitas dua kategori untuk cowok
tersebut.
Gue berharap bisa punya hubungan dengan
satu atau dua temen yang bisa gue jaga sampe tua. Semacem film Sex and The City lah. Hubungan yang gak
sebates tekstual, terbuka, saling berbagi. Ketika gue menemukannya… eh,
ternyata gue salah. Ada beberapa orang yang memang cuma bisa dijadiin temen
untuk fun. Ketika gue nanya pun, jawabannya kalo gak gantung, ya muter-muter. Apa
yang bisa dijalin dari interaksi begitu? Okay… dibawa “fun” aja…
Yes, gue pribadi yang rentan. Apa yang lo
harapin dari orang yang tumbuh dari background
keluarga kayak gue? Dan tinggal di lingkungan super decisive kayak gue?
APA?
Bahwa gue akan ber-positive-thinking ria ke semua orang?
Bahwa gue gak bakal takut membiarkan diri
gue jatuh cinta ke cowok yang gak dikenal?
Bahwa gue akan “Take-It-Easy” all the shits that happen around me?
WELL… gue UDAH coba…
Dan gue masih mencoba sebisa mungkin.
Memaafkan? Udah… Bahkan saking capeknya,
gue kadang gak terlalu peduli mana yang salah mana yang bener. Untuk bisa
melaluinya aja gue udah seneng. Syukur-syukur bisa lupa total.
Ketika gue gak peduli SIAPA yang salah dan
benar… you know what? Banyak orang di
kantor yang menertawai gue dan bisik-bisik ketika gue melakukan hal yang
dianggap salah. Even itu bukan
kesalahan gue, kadang gue cuma diem. Saking capek nanggapin atau mikirin.
Ahahaha…
Gue terus mencoba….
Mencoba….
Sampai gue gak tau lagi batasan yang ada.
Sampai sepertinya gue sampai ke titik
dimana gue… mati rasa.
Gue lupa cara mencintai dengan tulus… gue
gak tau apa itu rasanya benar-benar marah… gue gak tau gimana harus seneng…
gimana mellow-nya rasa sedih…
Yang gue tau… gue harus mencapai goal. Ketika goal itu udah tercapai, then gue harus cari goal lain.
Goal demi goal… but emotionless…
Dear
God,
I feel so robotic. And I’m totally sorry for
that… for not knowing how those things should be felt.
Terus? Kenapa gue gak mati aja? Haahaa…
Well, bunuh diri tuh dosa, katanya, entah kata siapa, but damn, gue percaya. See?
Masih goblok kan gueh?
Ada yang membuat gue survive… semua hal
yang setengah mati gue perjuangin sampai gue memanipulasi diri sendiri dengan
sugesti yang gue bangun.
Gue masih ada karena… ketika bokap gue
memerlakukan gue sebagai hal yang UNWANTED…. Gue bertahan untuk nyokap yang
udah PERJUANGIN gue.
Gue masih ada karena… ketika saudara/I
nyokap pergi begitu aja, gue masih punya tante dan sepupu-sepupu yang gue
sayang.
Gue masih ada karena… gue punya temen yang
butuh orang untuk curhat. Dan gue bersyukur kalau emang gue bisa menjadi titik
terang di gelapnya masalah mereka.
Gue masih ada karena… gue percaya sama
Tuhan, gak peduli seberapa sering gue “berantem” sama Tuhan karena kenakalan
dan my big ego. Hahaa… Gue masih yakin Dia gak akan melihat gue sebagai sampah
atau ciptaanNya yang gagal, gak peduli seberapa non-produktifnya gue menurut
standard manusia.
Then
here I am… enjoying my version of… Happily ever after….
No comments:
Post a Comment