
Disana, aku melihat seorang ayah dan putrinya, berdansa di acara pernikahan. Aku bahagia melihat kebahagiaan mereka, cinta yang terpancar di antara keduanya bagai pelangi yang bersinar di bawah langit mendung.
Aku bahagia untuk mereka,
Aku menangis untuk diriku.
Selama ini aku menikmati kasih sayang seorang ayah dari seorang ibu. Ibu yang tegar dan rapuh di saat yang sama.
Aku TAHU bahwa mengasihani diri sendiri itu bukan jalan keluar. Dan aku justru mulai menyalahi diri sendiri karena logika itu.
Semua pertanyaan “mengapa” yang justru memperburuk eksistensiku membuatku sesak. Why didn’t he (my dad) stay with us? Why didn’t he want my mom? Why didn’t he want ME?... Shit. He was a jerk, I didn’t and I don’t need him. I can’t lose something I’ve never had, right?
Tapi dibalik semua logika itu, aku merindukan jawaban. Sekedar penjelasan. Penjelasan yang meyakinkanku bahwa semua ini bukan kesalahanku, penjelasan yang meyakinkan that I’M NOT THE MISTAKE.
Then…
Seiring berjalannya waktu… kok gak ada yang “stay”? People come and go. Bahkan orang yang gak mau mengucapkan “Good Bye” saat perpisahan SMA karena optimis that we would always be together, isn’t here with me.
Mereka yang ku anggap saudara, saudari, teman, kekasih, WHERE ON EARTH ARE THEY NOW? They’re not with me.
Bahkan di jaman super canggih ini pun, mereka tiada. Teks verbal bahkan tidak mewakili eksistensi mereka. Too busy with their own lives.
But here I am, still alive, though. Haha!
All this time, I’ve tried to BE THE BEST. Supaya mereka yang ada di sekitar ku, mempunyai sedikit alasan untuk meninggalkan aku. Supaya aku merasa BAIK BAIK SAJA, bukan sampah yang gak berguna dan layak untuk ditinggalkan. Supaya aku bisa menjawab “I’m fine. I’m always fine” dengan senyum ceria ketika orang menanyakan “Apa kabar?”
....
No comments:
Post a Comment