I hate talking about money, but that doesn’t mean I don’t want to make money.
You know what, belakangan gue nyesel. Nyesel karena terlalu fokus mendapatkan nilai dan reputasi yang baik, bahkan TERBAIK semasa gue sekolah dan kuliah.
Gue nyesel, kenapa gue terlalu mendedikasikan diri di bidang pendidikan yang ilmunya paling cuma 40% kepake di kehidupan nyata dan itupun gak menjamin sukses.
Gue nyesel, kenapa gak dari masa-masa sekolah, gue uda mulai berbisnis. Gue pernah sih, coba jualan dari barang sampe jasa fotografi sebelum akhirnya kamera digital booming dan gue sendiri muak ngeliat banyaknya komunitas fotografi. Then… I just got bored.
Sekarang… gue uda menyelesaikan kuliah S1. Masih nunggu wisuda yang lamanya seabad karena gue ngebut lulus 3.5 tahun dan harus nunggu mereka yang lulus 4 tahun. Syalalala…
Bisa dikatakan, gue memasuki masa galau paska lulus. Kanan-kiri, atas-bawah, semua pihak seolah-olah mengharapkan gue duduk manis di kantor.
FINE! Gue duduk deh tuh di kantor. Sekalian gue mau belajar untuk mengembangkan diri, sosialisasi, dan skill. Harapannya sih gitu, tapi kenyataan mengajari gue hal yang berbeda.
Bukan salah kantor gue yang punya sejarah oke di bidangnya, yang uda sukses ini-itu. Bukan salah kantor gue yang punya budaya kaku, serba formal, sampe nyetel musik saat kerja aja bisa menimbulkan rasa bersalah. Bukan salah kantor gue yang setiap karyawan pulang tepat waktu, langsung dicap negative, dianggap kurang berdedikasi (hello?? Uang gaji lembur sama potongan telat masuk gak jauh beda gituloh? Terus kalo lama-lama di kantor tapi bengong bego cuma biar terkesan betah, buat apa???).
Di suasana kerja yang gue alami (gak terbatas pada kantor dimana gue pernah terikat lho ya, ini hasil penelitian di berbagai kantor yang pernah gue kunjungi berkali-kali), gue melihat banyak orang yang terobsesi menjadi sukses dan kaya. Pada suatu obrolan makan siang, gue pernah nanya sama orang yang kerjanya lembur mulu: “Kalo lu udah banyak duit, emang mau ngapain?” Jawabannya: “Ya punya bini, punya anak, jalan-jalan deh.”
Entah ini jawaban kurang kreatif atau gimana, gue kok udah familiar sama tujuan hidup kayak gitu ya?
Di suasana kerja yang gue alami, gue melihat ego-ego untuk menjadikan image diri se-indah mungkin. Lulusan luar negri, teknologi Apple, buanyaklah disana. Oke, itu bisa dikatakan sebuah pencapaian yang gak semudah membalikan telapak tangan. Tapi, lagi-lagi, gue gak tertarik. Gue lebih tertarik sama orang yang naik angkot, sama mereka yang mau mengajarkan ilmunya sekalipun gak jago bahasa Inggris.
Dari pertemuan dengan dress formal yang mahal sampe kemeja kotak-kotak gaul,
Dari dinner bareng dengan seperangkat sendok-garpu yang punya urutan tersendiri,
Dari wine mahal sampe soda jalanan,
Berbagai situasi meeting gue alami. Sungguh pengalaman dan pelajaran yang berharga buat gue. Terima kasih untuk yang membuka kesempatan kepada gue untuk merasakannya.
Semua pengalaman di dunia bisnis ini mengantarkan gue ke suatu point dimana gue kok lama-lama menyukai hal yang sederhana ya? Oke, elu bisa memiliki dunia, so what?
Gue resign setelah kontrak gue abis, gue melewatkan berbagai kesempatan, call me an idiot? Silahkan.
Banyak yang nawarin kerja, sejuta pertanyaan dan keterkejutan--yang entah dibuat-buat apa gak—mengarah pada menganggurnya seorang manusia ber-IPK tinggi ini.
Dear all, saudara-saudari terkasih, inilah alasan mengapa gue mau menganggur:
1. Semasa sekolah-kuliah, gue terlalu fokus untuk menjadi yang terbaik, demi melihat senyum dan kebahagiaan orang yang gue sayangi ketika mereka naik ke panggung, mendampingi gue mengambil penghargaan. Gue, dengan segala masalah di hidup gue, dari ekonomi, keluarga, sosialisasi, dll, berhasil lulus lebih cepat. Setelah itu, gue kerja. Gak layakah gue untuk break?
2. Gue masih muda, gue punya mimpi yang belum –lebih tepatnya telat—untuk gue coba realisasikan dan gue mau mencobanya selagi gue gak terikat sama dunia kerja.
3. Gue masih muda, gue berhak untuk salah.
4. Setelah melihat pebisnis dengan obsesi mereka, gue sadar, gue bukanlah tipe orang seperti mereka, yeah, lu boleh bilang gue gak kompetitif, manja, atau apa, terserah. Tujuan hidup gue beda. Gue tumbuh dengan seorang ibu perkasa yang super sibuk. Gue tumbuh di budaya Hollywood (TV Kabel, yang percaya atau gak, memengaruhi pola pikir gue lebih dari 50%). Gue merindukan momen-momen bersama yang efektif, yang sepertinya jarang dimiliki pebisnis.
5. Gue menemukan kebahagiaan di kehidupan yang bebas “politik”. Saran gue nih ya, kalo uda berkecimpung dalam dunia bisnis, jangan pernah percaya 100% sama orang, bahkan sama malaikat bisnis. Mulutmu, harimaumu, tingkah-lakumu, ularmu. Haha! If benefits are the heart of business, gossips are the breath. HATI-HATI. Ini lah yang membuat gue muak. Penjilat dimana-mana, serigala berbulu domba dimana-mana….
6. Gue muak menghadapi orang tua gue yang berubah. Mereka seakan ngeliat gue sebagai mesin uang ketika gue memiliki gaji tetap. Hai para suami-istri, anak itu hendaknya dihasilkan karena cinta. Jangan dijadikan investasi dini. Gue benci cinta yang bersyarat, apalagi kalau hal itu muncul di keluarga. Thanks banget lhoo ya!
7. Gue kehilangan motivasi sukses yang berujung pada MONEY. Menurut gue, kalo gue bisa hepi ketika jalan-jalan naek trans Jakarta, kenapa gue harus menargetkan Ferrari?
8. Gue bingung. Gue punya kepribadian yang bisa berubah, berlawanan pula. Di satu sisi, gue bisa berhasil kalo gue benar-benar menginginkan sesuatu, di satu sisi, gue pecinta damai. Mana jalan hidup yang paling cocok sama gue, yang bisa membuat gue jadi diri gue, sesuai dengan apa yang gue suka? Time will answer.
9. Gue toh gak murni mengganggur. Gak kerja di kantor bukan berarti gue stop berkarya.
10. Gue mau melihat dan memerluas sudut pandang dengan memelajari berbagai karakter manusia secara emosional (bukan secara logika). Hal ini agaknya sulit dilakukan di dunia bisnis, yang ada malah nanti emosional yang didapat akan berpengaruh pada kinerja prosesi berbisnis.
11. Untuk beberapa waktu, gue mau mendengarkan diri gue sendiri. There’s a time when you should stop listen to anybody else.
Ya… itulah kira-kira alasan-alasannya. Toh gue gak bakal jadi “pengangguran” seumur idup. Gue tipe orang yang fokus, remember? Kalau gue mau berdedikasi, gue bakal autis. Kebayangkan, kalo gue udah nemuin pekerjaan yang gue suka sampe ke ubun-ubun? Gue bakal menghabiskan waktu gue ke depan untuk kerja. So… untuk saat ini, gue pengen melihat sisi lain dari dunia terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap “autis” kerja.
wah, gua setuju tuh. Be to perfect but get nothing at all. Orang di sekitar kadang tidak mengerti bagaimana pengorbanan kita untuk mencapai hal tersebut. malah mereka memerintah atau memaksa kita berbuat lebih lagi.kadang mereka gak begitu mensyukuri. Yang kusadari,tidak semua hal yang baik untuk mereka baik untuk kita.
ReplyDelete