Wednesday, October 26, 2011

Bye Wonderland, Bye Peter Pan


25 Oktober 2011
Hari ini aku dan seorang teman yang spesial di hatiku mengunjungi sebuah gereja. Aku tidak tahu apa nama gereja tersebut. Namun demikian, palang di samping pintu masuk utama gereja bertuliskan: Gereja Santa Perawan Maria Sapta Duka. Well, anggaplah itu namanya.

Kami berdua menelusuri tepi timur gereja tetapi tidak satu pintupun terbuka. Hari ini memang bukan hari Minggu, tapi setahuku, gereja akan tetap membuka pintu bagi umatnya.
Aku setengah berlari menuju tepi lain gereja. Secercah harapan muncul ketika aku melihat sebuah taman kecil dengan gua Maria di pojoknya. Sayangnya... Pintu pagar yang menuju ke goa tersebut juga terkunci.

Okelah kalau begitu, mari bergalau ria di depan pintu masuk utama. Berdua dengan temanku, aku duduk di undakan tangga di depan pintu masuk gereja. Bahkan cuaca ikut mendukung kegalauan dua orang cewek Jakarta ini.

Aku menjauhi temanku, memintanya duduk di ujung undakan tangga yang berlawanan denganku. Kami menertawai kekonyolan kami karena pastinya kami terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Walaupun tentunya ia bukan kekasihku.


Aku tidak tahu apa yang aku lakukan di bawah atap gereja. Yeah, aku tahu aku sedang berlindung dari guyuran hujan sih. Aku juga tahu tujuan kami ke gereja adalah untuk berdoa. Aku hanya tidak tahu apa yang harus kudoakan. Aku hanya ingin mengobrol dengan Bapakku.


Setelah duduk bersebrangan, kami bedua pun hening, sibuk dengan diri kami sendiri sambil memandangi hujan dan hijaunya taman di depan gereja.
Aku termasuk orang yang malas berdoa, tapi aku suka berbicara pada Tuhan. Aku membutuhkan hal itu.

Dalam pikiranku...
Dalam perbincanganku denganNya...

Aku memulai dengan "Bapa, tidak peduli aku menghadap atau membelakangiMu, aku harap Kau ada untukku dan tidak akan meninggalkanku." --karena saat itu, aku duduk membelakangi pintu gereja yang sepertinya juga membelakangi altar. Mau bagaimana lagi?


Selanjutnya...
Aku memohon agar aku bisa sukses, apapun definisi sukses itu nantinya, aku gak mau tahu. Yang aku tahu, aku mau sukses. Aku mengakui padaNya bahwa permohonanku manusiawi, agaknya semua orang pasti pernah memohon hal serupa yang aku harapkan dariNya.

Dari semua permohonan...
Dari semua harapan...
Inti dari pembicaraanku kepada Tuhan kali ini sebenarnya adalah... Aku ingin melepaskan seseorang.

Seseorang yang kehadirannya tak kuharapkan,

Seseorang yang memutar-balikkan prinsipku hanya dengan eksistensinya di dalam hidupku.


Seseorang yang tanpa kusadari telah membuatku membutuhkan apa itu cinta.

Seseorang yang dengan perhatian kecilnya mampu menyuntikkan semangat kepadaku. Walau itu sekedar sapaan di pagi hari, ucapan selamat tidur di malam hari, dan salam damai di hari Minggu.

Seseorang yang seolah-olah berhasil mengembalikan kebahagiaanku yang telah mati.


Seseorang yang bahkan tidak menanyakan nomor teleponku.

Seseorang yang.... Memiliki dunia yang berbeda denganku.

Beberapa hari sebelum hari Selasa 25 Oktober ini, aku bertemu dengan seseorang tersebut. Aku tidak pernah memilikinya. Aku hanya pernah mengukir beberapa momen manis dengannya.
Entah ia sadar atau tidak.


Sudah cukup lama aku dan dia tidak berinteraksi. Aku pikir aku sudah berhasil membunuh perasaan-tanpa-masa depan itu.


Perasaan bodoh seperti arus listrik di saat pertama kali aku bertemu dengannya.

Perasaan bodoh sepihak.

Perasaan bodoh yang membuat logikaku terus menentangnya
Perasaan bodoh yang terasa seperti... Sebuah kesalahan. Perasaan bodoh yang kukira telah mati, tapi ternyata kembali menyeruak ketika aku berjumpa dengannya.

Perjumpaan di detik-detik terakhir dengan detik-detik awal yang blur. Sungguh momen aneh bagiku. Aku pikir aku bisa menghindarinya. Tapi Tuhan, Kau justru memertemukan kami di posisi yang benar-benar tak terelakkan. Hahaha! Mau berlagak gak ngeliat pun gak bisa.


Well...

Bukan aku yang menginginkan perasaan itu, Tuhan.

Bila ini adalah bagian dari rencana dan kehendakMu, maka aku akan memerjuangkannya.
Bila ini hanyalah sesuatu yang akan mengajariku sisi hidup yang lain, aku akan memelajarinya.

*Tuhan, bila memang dia kau hadirkan untukku,
aku mohon maaf.

Maaf, aku tidak bisa, aku tidak tahu lagi cara memerjuangkannya.

Maaf, karena aku sendiri tidak melihat masa depan yang baik bagi kami berdua.
Maaf, karena aku ragu Kau menginginkannya untukku. Kami berbeda, dia terlalu positif untukku dan aku pun tidak ingin mengotori keceriaan hidupnya dengan hadir sebagai cewek sejuta masalah.

**Tuhan... Bila kehadiran seseorang itu hanyalah pelajaran bagiku, maka biarlah aku indah karena ajaran itu. Aku akan lebih kuat dan dewasa. Asal... Kau berkenan untuk menolongku yang kelewat bodoh ini untuk melepaskannya.

Aku belajar bahwa cinta yang tulus itu mampu mematahkan teori, prinsip dan standardisasi yang ku bangun.
Aku belajar untuk memerjuangkan apa yang kurasa pantas untuk ku perjuangkan. Aku rasa aku sudah cukup mencoba untuk berinteraksi dengannya, namun kesempatan pun bahkan menentang kedekatanku dengannya.

Ia sendiri tidak memerjuangkan aku. Tidak lagi.
Mungkin ia tidak menilai diriku layak atau sesuai untuknya. Mungkin aku hanya pengisi kesepian sesaat baginya.
Mungkin aku hanya sekedar seorang kenalan baginya. Mungkin... Mungkin banyak kemungkinan lain yang bisa membuatku menginap disini bila ku coba simpulkan semuanya.

Apapun alasan dia 'menghilang-begitu-saja', Dia tetap berarti lebih bagiku.
Aku tidak akan membencinya. Ia akan selalu menjadi sosok spesial dalam hidupku. Sosok yang sempurna bagiku. Dia adalah orang yang tepat. Hanya saja Bapa... Tolong buat aku mengerti bahwa dia bukan untukku.

"Bukan mawar yang menghampiri kumbang, bukan cinta bila kau kejar." --> Lirik sebuah lagu.
Benarkah lirik lagu tersebut? Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, bila aku adalah si mawar dan dia adalah si kumbang...
Aku rasa aku adalah mawar yang menggugurkan dirinya untuk seekor kumbang. Mungkin di saat si kumbang lupa atau tidak tahu lagi cara untuk terbang. So... selama si kumbang masih terlalu perkasa untuk mendarat, sepertinya aku tidak boleh mengharapkannya.

Dan baiklah Tuhan, aku tahu aku harus belajar bahwa
segala sesuatu yang indah tidak harus kumiliki. Aku bingung, mengapa pelajaran yang satu ini harus terus kupelajari? Tidak pernah atau belumkah aku lulus di subjek ini? Mengapa semakin aku memelajari hal ini, justru aku semakin bingung, Bapa? Aku jadi tidak tahu sampai dimana dan kapan aku harus berjuang, sampai dimana dan kapan aku harus berhenti.

Bukankah aku sudah sering ditinggalkan, Tuhan? Sampai aku tidak berharap lagi kepada manusia. Namun kau menghadirkannya. Ia mengembalikan harapan yang lagi-lagi, kini terasa palsu. Toh dimana ia sekarang? Meninggalkanku juga, seperti yang lain. Seperti ayahku, seperti orang-orang yang sempat menjadi keluarga, seperti sahabat-sahabatku. Pergi... Dan yeah, Tuhan, Kau pasti tahu, mereka pergi bukan hanya dalam hal jarak fisik. Mereka benar-benar pergi. Mereka MEMUTUSKAN untuk pergi.


Walaupun sering, tetap saja ini sakit, Tuhan. Aku mulai mati rasa. Salahkah aku?

Maaf Tuhan, maaf karena aku bodoh sebodoh-bodohnya. Oleh karena itu Tuhan, aku serahkan padaMu, selalu, dari awal sampai akhir.

Aku tidak harus dan tidak mau mengerti segala sesuatunya. Karena aku bisa gila kalau harus mengerti setiap hal di dunia.
Aku hanya ingin... Kau ada untuku. Jangan tinggalkan aku Tuhan. Kaulah alasanku bertahan hidup sampai saat ini. Entah aku hidup sesat ataupun benar, yang jelas karenaMu, aku disini, Tuhan.

Oh ya, untuk temanku yang ada di ujung sana...
Kami berdua sama-sama kacau Tuhan, hehe... Tapi bila Kau yang berkenan, maka kami pun bisa mengubah dunia menjadi lebih baik. Apapun Tuhan, terjadilah menurut kehendakMu. Amin...
***
Aku pun menyapukan tisu ke pipiku yang basah, cekikikan dalam kekonyolan dengan cewek yang sedang duduk di ujung lain undakan tangga, kemudian kembali menelusuri kota Bandung untuk mencari jalan pulang.




Monday, October 17, 2011

Belajar dari Model Rambut



Beberapa hari yang lalu aku merasa seperti anjing Golden yang berbulu tebal. Rambutku mulai memanjang, tebal, dan rata. Aku yakin gaya rambut seperti itu bisa membuat orang mengira aku adalah kuntilanak Bule-Jepang bila berkeliaran di malam hari mengenakan daster putih. Haha...

Untuk mengatasi kebosanan dengan style rambut seperti ini, aku meminta bantuan pada Pak Modem dan Profesor Google. Segala kata kunci yang kiranya mampu menampilkan gambar potongan rambut untuk dijadikan model telah kucoba. Setelah kira-kira 15 menit, aku menemukannya. 5 potongan rambut favorit. Kemudian aku menyeleksinya lagi menjadi 3 potongan rambut yang paling kuminati. Dan akhirnya... Tarraa!! 1 model rambut milik Mischa Baron adalah pemenangnya.

Keesokan harinya...
Aku membawa model rambut tersebut dalam bentuk foto yang kusimpan di dalam BB. Dengan semangat, aku pergi ke salon di pasar. Salon untuk kelas menengah ke bawah. Irit mode: ON.

Sampai di salon, si pemotong rambut memberitahu, "Airnya mati. Gak ada aer dari kemaren. Gimana?"

Sambil mengunyah pisang goreng yang ia pegang, si pemotong rambut yang memiliki rambut kribo itu memintaku menunggu setelah aku menyetujui rambutku digunting dalam keadaan kering.

Beberapa menit berlalu, akhirnya si kribo melayaniku. Ia mengalungkan kain biru yang panjangnya sampai ke lututku. Prosesi potong rambut dimulai setelah aku menunjukkan model rambut impianku--yang cuma diliat gak lebih dari 4 detik sama si kribo. Pede banget nih tukang potong rambut. Harap-harap cemas dimulai.

Sat set sat set...
Rambut gondrong tebalku mulai dipotong.

17 menit selanjutnya...
Ehm...
Rambutku tidak rata lagi! Yay! Sudah memiliki model yang ruarr biasa beda dari model yang kuingini. Syalalala.. Grrrr.
Nasi uda jadi bubur. Apa pula yang diharapkan dari jasa potong rambut 15 ribu?

Aku pulang... Bete.
Kalau sebelumnya aku seperti anjing Golden, sekarang aku seperti anjing Pudel.
Makian pun aku lontarkan kepada... Tembok.
Itu caraku melampiaskan emosi.
Marah sepuas-puasnya kepada tembok, karena aku tahu, tidaklah bijak untuk memarahi si kribo.
Toh kalaupun aku membunuhnya, model rambutku tidak akan lebih baik.

30 menit kemudian...
Aku menjadikan itu sebagai joke di pembicaraan BBM dengan seorang teman. Orang yang tidak mengenalku biasanya akan bingung dengan sikapku.
Bete-marah-diam-autis-nyengir lagi dalam waktu singkat.
Bahasa kerennya: labil.

Untuk apa pula marah lama-lama?
Dari pengalaman ini, aku menyimpulkan:
Gak ada gunanya marah meledak-ledak untuk suatu kejadian yang telah terjadi. Lebih baik memikirkan langkah ke depan.

Sooooo.. Inilah langkah ke depanku agar merasa nyaman dengan potongan rambut ala pudel ini:

*yakin aja, orang cakep, dibotakin juga tetep cakep. Hoho....

*utak-atik penataan rambut biar terlihat keren.

*mulai mikirin creambath biar rambut cepet panjang.

*berdoa. Hahahaa...

Well... Gak sampai dua hari, aku sudah bisa menerima, bahkan menyukai gaya rambutku.

Mungkin ini terdengar berlebihan untuk suatu momen potong rambut. Tapi ada beberapa pelajaran yang bisa diambil:
*sikap belajar menerima,

*belajar menahan diri untuk tidak memarahi orang yang bersalah,

*hukum permintaan dan penawaran, jangan berharap terlalu tinggi untuk harga yang tidak tinggi.

*belajar untuk mencari solusi,

*belajar untuk mengubah situasi, jadikan hal buruk terlihat baik. Rock the-amazingly-awful haircut!

Pelajaran ini kiranya bisa diterapkan untuk setiap masalah yang dihadapi. Kebijakan tumbuh dari hal-hal kecil. Itulah yang membuat seseorang 'besar'.



Sebuah Kisah untuk Sebuah Hidup

12 Oktober 2011...
Aku tidak tahu lagi bagaimana memasang kembali serpihan-serpihan rapuh di dalam hatiku. Aku pikir aku bisa dan aku sudah mencoba.

Serpihan itu mungkin saja bersatu membentuk kepribadian yang utuh. Tapi ia rapuh.
Ia membutuhkan 'lem' yang bisa menopang, menyatukan dengan kuat setiap serpihan tersebut.

Sehingga...
Kesatuan tersebut tidak hanya sesaat.

Sehingga...
Keutuhan tersebut bisa bertahan lama.

Sehingga...
Ia siap melangkah ke depan.

Aku butuh 'lem' itu. Tapi aku belum menemukannya. Aku lelah mencari. Aku benci hidup ini.
Di kala berdoa pun aku tak tahu harus memohon apa. Kurasa Tuhan bisa-bisa muak dengan permohonanku. Manusia beribu masalah.

Aku menyalahkan diri.
Kenapa?
Karena tidak mungkin hampir semua yang terjadi di dalam hidupku adalah salah. Jadi, aku menyimpulkan, AKU lah yang salah.

Kadang aku berpikir...
Kenapa bukan aku yang sibuk, sehingga tidak memiliki waktu untuk teman-temanku.

Kenapa bukan aku yang lupa ketika memiliki janji dan dengan mudahnya meminta maaf karena tidak bisa memenuhi janji tersebut.

Kenapa bukan aku yang menjadi si nakal tak bisa diatur.

Kenapa bukan aku yang curhat panjang lebar, tetapi ketika sahabatku curhat, aku bahkan tidak tahu ia sudah menceritakan masalah yang sama berulang kali sebelumnya.

Kenapa bukan aku yang cuek?

Jadi orang normal di antara banyaknya orang gila sepertinya tidak berguna, kan? Apa aku yang terlalu egois sehingga berkesimpulan mengenai siapa yang gila, siapa yang normal?

Sejujurnya, dunia ini,
Well, mungkin hanya duniaku,
Yang membuatku bingung mana yang benar, mana yang salah.

Ini seperti menyudutkanku pada pemilihan antara mau jadi orang baik tapi teraniaya, atau mau menjadi orang licik tapi bertahan.

See? Jadi, mungkin permasalahannya adalah... AKU.
Aku dan sudut pandangku. Aku dan logikaku. Aku dan hatiku.
Ya, salahkan aku.

Pada 12 Oktober ini, aku mengetik:
"eid annaw I" pada status BBM ku.
Suatu hal emosional yang bodoh yang pernah ku publikasi. Dan aku mengulanginya lagi. Ya, saat ini. Saat kau membaca ini.

13 Oktober 2011...
Seorang kakek asing memberitahuku,
Seorang wanita muda mengajariku,
Sebuah kisah, kembali meneteskan embun di padang gurun dalam kehidupanku.

Aku mendapati bahwa...

Ya, hidup ini kejam.
Tapi... keindahan dalam hidup justru baru bisa dirasakan ketika kekejaman itu ada. Kita tidak akan tahu bahwa gula itu manis kalau tidak pernah mencoba garam, kopi, dan tawarnya suatu rasa.

Ya, melepaskan masa lalu tidaklah semudah membuang barang-barang dari bagasi mobil, kemudian tinggal menginjak gas, lalu melaju ke depan.
Tapi... Siapa bilang masa lalu itu harus dibuang? Siapa bilang barang-barang di bagasi harus dibuang?
Kita bisa mengubur masa lalu di dalam hati kita. Hadapi, simpan!

Segala kenangan adalah milik kita, untuk apa dibuang? Takut sakit kalo inget? Takut serpihan-serpihan yang udah susah payah disusun, rontok begitu aja karena tersenggol kenangan?

Setiap kenangan, manis maupun pahit, keduanya membuat hidup kita memiliki KISAH ketika memiliki segalanya di dunia belum tentu menjadikan kita memiliki kisah.

Berterima kasihlah pada masa lalu atas kenangan yang terukir.
Berterima kasihlah pada saat ini atas kenangan yang menjadi inspirasi dan pegangan.
Berterima kasihlah pada masa depan atas tantangannya kepada kita untuk menggunakan kenangan sebagai mesin gerak. Mesin penghasil motivasi. Penghasil... Harapan...

Ya, semua memang bisa saja di luar harapan.
Tapi... Bukan berarti harapan itu sendiri tidak bisa dibangun ulang. Kalau hari ini membuat kue gosong, besok masih bisa buat lagi yang baru.

Takut gak mendapat kesempatan yang sama?
Kenapa pula harus mendapat kesempatan yang sama kalau bisa menciptakan kesempatan yang lebih baik?
Selebihnya, kita memang gak bisa mengontrol apa yang akan terjadi pada setiap kesempatan itu. Tapi kita bisa mengendalikan apa dan bagaimana kita merespon mereka. So... Balik lagi ke: Diri Sendiri.

Ya, mencintai orang dengan tulus kadang berakhir pada kekecewaan.
Tapi... Walaupun cinta yang kita berikan tidak berbalik sesuai harapan. Percayalah... Benih yang baik akan menghasilkan buah yang baik.

Jangan takut mencintai dengan tulus, cinta itu akan berbalik. Pasti berbalik, walaupun bukan dari orang yang sama, bukan di tempat yang sama, dan bukan pada waktu yang sama. Ia akan berbalik di waktu, tempat, dan oleh orang yang lebih tepat.