Monday, October 17, 2011

Sebuah Kisah untuk Sebuah Hidup

12 Oktober 2011...
Aku tidak tahu lagi bagaimana memasang kembali serpihan-serpihan rapuh di dalam hatiku. Aku pikir aku bisa dan aku sudah mencoba.

Serpihan itu mungkin saja bersatu membentuk kepribadian yang utuh. Tapi ia rapuh.
Ia membutuhkan 'lem' yang bisa menopang, menyatukan dengan kuat setiap serpihan tersebut.

Sehingga...
Kesatuan tersebut tidak hanya sesaat.

Sehingga...
Keutuhan tersebut bisa bertahan lama.

Sehingga...
Ia siap melangkah ke depan.

Aku butuh 'lem' itu. Tapi aku belum menemukannya. Aku lelah mencari. Aku benci hidup ini.
Di kala berdoa pun aku tak tahu harus memohon apa. Kurasa Tuhan bisa-bisa muak dengan permohonanku. Manusia beribu masalah.

Aku menyalahkan diri.
Kenapa?
Karena tidak mungkin hampir semua yang terjadi di dalam hidupku adalah salah. Jadi, aku menyimpulkan, AKU lah yang salah.

Kadang aku berpikir...
Kenapa bukan aku yang sibuk, sehingga tidak memiliki waktu untuk teman-temanku.

Kenapa bukan aku yang lupa ketika memiliki janji dan dengan mudahnya meminta maaf karena tidak bisa memenuhi janji tersebut.

Kenapa bukan aku yang menjadi si nakal tak bisa diatur.

Kenapa bukan aku yang curhat panjang lebar, tetapi ketika sahabatku curhat, aku bahkan tidak tahu ia sudah menceritakan masalah yang sama berulang kali sebelumnya.

Kenapa bukan aku yang cuek?

Jadi orang normal di antara banyaknya orang gila sepertinya tidak berguna, kan? Apa aku yang terlalu egois sehingga berkesimpulan mengenai siapa yang gila, siapa yang normal?

Sejujurnya, dunia ini,
Well, mungkin hanya duniaku,
Yang membuatku bingung mana yang benar, mana yang salah.

Ini seperti menyudutkanku pada pemilihan antara mau jadi orang baik tapi teraniaya, atau mau menjadi orang licik tapi bertahan.

See? Jadi, mungkin permasalahannya adalah... AKU.
Aku dan sudut pandangku. Aku dan logikaku. Aku dan hatiku.
Ya, salahkan aku.

Pada 12 Oktober ini, aku mengetik:
"eid annaw I" pada status BBM ku.
Suatu hal emosional yang bodoh yang pernah ku publikasi. Dan aku mengulanginya lagi. Ya, saat ini. Saat kau membaca ini.

13 Oktober 2011...
Seorang kakek asing memberitahuku,
Seorang wanita muda mengajariku,
Sebuah kisah, kembali meneteskan embun di padang gurun dalam kehidupanku.

Aku mendapati bahwa...

Ya, hidup ini kejam.
Tapi... keindahan dalam hidup justru baru bisa dirasakan ketika kekejaman itu ada. Kita tidak akan tahu bahwa gula itu manis kalau tidak pernah mencoba garam, kopi, dan tawarnya suatu rasa.

Ya, melepaskan masa lalu tidaklah semudah membuang barang-barang dari bagasi mobil, kemudian tinggal menginjak gas, lalu melaju ke depan.
Tapi... Siapa bilang masa lalu itu harus dibuang? Siapa bilang barang-barang di bagasi harus dibuang?
Kita bisa mengubur masa lalu di dalam hati kita. Hadapi, simpan!

Segala kenangan adalah milik kita, untuk apa dibuang? Takut sakit kalo inget? Takut serpihan-serpihan yang udah susah payah disusun, rontok begitu aja karena tersenggol kenangan?

Setiap kenangan, manis maupun pahit, keduanya membuat hidup kita memiliki KISAH ketika memiliki segalanya di dunia belum tentu menjadikan kita memiliki kisah.

Berterima kasihlah pada masa lalu atas kenangan yang terukir.
Berterima kasihlah pada saat ini atas kenangan yang menjadi inspirasi dan pegangan.
Berterima kasihlah pada masa depan atas tantangannya kepada kita untuk menggunakan kenangan sebagai mesin gerak. Mesin penghasil motivasi. Penghasil... Harapan...

Ya, semua memang bisa saja di luar harapan.
Tapi... Bukan berarti harapan itu sendiri tidak bisa dibangun ulang. Kalau hari ini membuat kue gosong, besok masih bisa buat lagi yang baru.

Takut gak mendapat kesempatan yang sama?
Kenapa pula harus mendapat kesempatan yang sama kalau bisa menciptakan kesempatan yang lebih baik?
Selebihnya, kita memang gak bisa mengontrol apa yang akan terjadi pada setiap kesempatan itu. Tapi kita bisa mengendalikan apa dan bagaimana kita merespon mereka. So... Balik lagi ke: Diri Sendiri.

Ya, mencintai orang dengan tulus kadang berakhir pada kekecewaan.
Tapi... Walaupun cinta yang kita berikan tidak berbalik sesuai harapan. Percayalah... Benih yang baik akan menghasilkan buah yang baik.

Jangan takut mencintai dengan tulus, cinta itu akan berbalik. Pasti berbalik, walaupun bukan dari orang yang sama, bukan di tempat yang sama, dan bukan pada waktu yang sama. Ia akan berbalik di waktu, tempat, dan oleh orang yang lebih tepat.

No comments:

Post a Comment