Beberapa hari yang lalu aku merasa seperti anjing Golden yang berbulu tebal. Rambutku mulai memanjang, tebal, dan rata. Aku yakin gaya rambut seperti itu bisa membuat orang mengira aku adalah kuntilanak Bule-Jepang bila berkeliaran di malam hari mengenakan daster putih. Haha...
Untuk mengatasi kebosanan dengan style rambut seperti ini, aku meminta bantuan pada Pak Modem dan Profesor Google. Segala kata kunci yang kiranya mampu menampilkan gambar potongan rambut untuk dijadikan model telah kucoba. Setelah kira-kira 15 menit, aku menemukannya. 5 potongan rambut favorit. Kemudian aku menyeleksinya lagi menjadi 3 potongan rambut yang paling kuminati. Dan akhirnya... Tarraa!! 1 model rambut milik Mischa Baron adalah pemenangnya.
Keesokan harinya...
Aku membawa model rambut tersebut dalam bentuk foto yang kusimpan di dalam BB. Dengan semangat, aku pergi ke salon di pasar. Salon untuk kelas menengah ke bawah. Irit mode: ON.
Sampai di salon, si pemotong rambut memberitahu, "Airnya mati. Gak ada aer dari kemaren. Gimana?"
Sambil mengunyah pisang goreng yang ia pegang, si pemotong rambut yang memiliki rambut kribo itu memintaku menunggu setelah aku menyetujui rambutku digunting dalam keadaan kering.
Beberapa menit berlalu, akhirnya si kribo melayaniku. Ia mengalungkan kain biru yang panjangnya sampai ke lututku. Prosesi potong rambut dimulai setelah aku menunjukkan model rambut impianku--yang cuma diliat gak lebih dari 4 detik sama si kribo. Pede banget nih tukang potong rambut. Harap-harap cemas dimulai.
Sat set sat set...
Rambut gondrong tebalku mulai dipotong.
17 menit selanjutnya...
Ehm...
Rambutku tidak rata lagi! Yay! Sudah memiliki model yang ruarr biasa beda dari model yang kuingini. Syalalala.. Grrrr.
Nasi uda jadi bubur. Apa pula yang diharapkan dari jasa potong rambut 15 ribu?
Aku pulang... Bete.
Kalau sebelumnya aku seperti anjing Golden, sekarang aku seperti anjing Pudel.
Makian pun aku lontarkan kepada... Tembok.
Itu caraku melampiaskan emosi.
Marah sepuas-puasnya kepada tembok, karena aku tahu, tidaklah bijak untuk memarahi si kribo.
Toh kalaupun aku membunuhnya, model rambutku tidak akan lebih baik.
30 menit kemudian...
Aku menjadikan itu sebagai joke di pembicaraan BBM dengan seorang teman. Orang yang tidak mengenalku biasanya akan bingung dengan sikapku.
Bete-marah-diam-autis-nyengir lagi dalam waktu singkat.
Bahasa kerennya: labil.
Untuk apa pula marah lama-lama?
Dari pengalaman ini, aku menyimpulkan:
Gak ada gunanya marah meledak-ledak untuk suatu kejadian yang telah terjadi. Lebih baik memikirkan langkah ke depan.
Sooooo.. Inilah langkah ke depanku agar merasa nyaman dengan potongan rambut ala pudel ini:
*yakin aja, orang cakep, dibotakin juga tetep cakep. Hoho....
*utak-atik penataan rambut biar terlihat keren.
*mulai mikirin creambath biar rambut cepet panjang.
*berdoa. Hahahaa...
Well... Gak sampai dua hari, aku sudah bisa menerima, bahkan menyukai gaya rambutku.
Mungkin ini terdengar berlebihan untuk suatu momen potong rambut. Tapi ada beberapa pelajaran yang bisa diambil:
*sikap belajar menerima,
*belajar menahan diri untuk tidak memarahi orang yang bersalah,
*hukum permintaan dan penawaran, jangan berharap terlalu tinggi untuk harga yang tidak tinggi.
*belajar untuk mencari solusi,
*belajar untuk mengubah situasi, jadikan hal buruk terlihat baik. Rock the-amazingly-awful haircut!
Pelajaran ini kiranya bisa diterapkan untuk setiap masalah yang dihadapi. Kebijakan tumbuh dari hal-hal kecil. Itulah yang membuat seseorang 'besar'.
Untuk mengatasi kebosanan dengan style rambut seperti ini, aku meminta bantuan pada Pak Modem dan Profesor Google. Segala kata kunci yang kiranya mampu menampilkan gambar potongan rambut untuk dijadikan model telah kucoba. Setelah kira-kira 15 menit, aku menemukannya. 5 potongan rambut favorit. Kemudian aku menyeleksinya lagi menjadi 3 potongan rambut yang paling kuminati. Dan akhirnya... Tarraa!! 1 model rambut milik Mischa Baron adalah pemenangnya.
Keesokan harinya...
Aku membawa model rambut tersebut dalam bentuk foto yang kusimpan di dalam BB. Dengan semangat, aku pergi ke salon di pasar. Salon untuk kelas menengah ke bawah. Irit mode: ON.
Sampai di salon, si pemotong rambut memberitahu, "Airnya mati. Gak ada aer dari kemaren. Gimana?"
Sambil mengunyah pisang goreng yang ia pegang, si pemotong rambut yang memiliki rambut kribo itu memintaku menunggu setelah aku menyetujui rambutku digunting dalam keadaan kering.
Beberapa menit berlalu, akhirnya si kribo melayaniku. Ia mengalungkan kain biru yang panjangnya sampai ke lututku. Prosesi potong rambut dimulai setelah aku menunjukkan model rambut impianku--yang cuma diliat gak lebih dari 4 detik sama si kribo. Pede banget nih tukang potong rambut. Harap-harap cemas dimulai.
Sat set sat set...
Rambut gondrong tebalku mulai dipotong.
17 menit selanjutnya...
Ehm...
Rambutku tidak rata lagi! Yay! Sudah memiliki model yang ruarr biasa beda dari model yang kuingini. Syalalala.. Grrrr.
Nasi uda jadi bubur. Apa pula yang diharapkan dari jasa potong rambut 15 ribu?
Aku pulang... Bete.
Kalau sebelumnya aku seperti anjing Golden, sekarang aku seperti anjing Pudel.
Makian pun aku lontarkan kepada... Tembok.
Itu caraku melampiaskan emosi.
Marah sepuas-puasnya kepada tembok, karena aku tahu, tidaklah bijak untuk memarahi si kribo.
Toh kalaupun aku membunuhnya, model rambutku tidak akan lebih baik.
30 menit kemudian...
Aku menjadikan itu sebagai joke di pembicaraan BBM dengan seorang teman. Orang yang tidak mengenalku biasanya akan bingung dengan sikapku.
Bete-marah-diam-autis-nyengir lagi dalam waktu singkat.
Bahasa kerennya: labil.
Untuk apa pula marah lama-lama?
Dari pengalaman ini, aku menyimpulkan:
Gak ada gunanya marah meledak-ledak untuk suatu kejadian yang telah terjadi. Lebih baik memikirkan langkah ke depan.
Sooooo.. Inilah langkah ke depanku agar merasa nyaman dengan potongan rambut ala pudel ini:
*yakin aja, orang cakep, dibotakin juga tetep cakep. Hoho....
*utak-atik penataan rambut biar terlihat keren.
*mulai mikirin creambath biar rambut cepet panjang.
*berdoa. Hahahaa...
Well... Gak sampai dua hari, aku sudah bisa menerima, bahkan menyukai gaya rambutku.
Mungkin ini terdengar berlebihan untuk suatu momen potong rambut. Tapi ada beberapa pelajaran yang bisa diambil:
*sikap belajar menerima,
*belajar menahan diri untuk tidak memarahi orang yang bersalah,
*hukum permintaan dan penawaran, jangan berharap terlalu tinggi untuk harga yang tidak tinggi.
*belajar untuk mencari solusi,
*belajar untuk mengubah situasi, jadikan hal buruk terlihat baik. Rock the-amazingly-awful haircut!
Pelajaran ini kiranya bisa diterapkan untuk setiap masalah yang dihadapi. Kebijakan tumbuh dari hal-hal kecil. Itulah yang membuat seseorang 'besar'.
No comments:
Post a Comment