
25 Oktober 2011
Hari ini aku dan seorang teman yang spesial di hatiku mengunjungi sebuah gereja. Aku tidak tahu apa nama gereja tersebut. Namun demikian, palang di samping pintu masuk utama gereja bertuliskan: Gereja Santa Perawan Maria Sapta Duka. Well, anggaplah itu namanya.
Kami berdua menelusuri tepi timur gereja tetapi tidak satu pintupun terbuka. Hari ini memang bukan hari Minggu, tapi setahuku, gereja akan tetap membuka pintu bagi umatnya. Aku setengah berlari menuju tepi lain gereja. Secercah harapan muncul ketika aku melihat sebuah taman kecil dengan gua Maria di pojoknya. Sayangnya... Pintu pagar yang menuju ke goa tersebut juga terkunci.
Okelah kalau begitu, mari bergalau ria di depan pintu masuk utama. Berdua dengan temanku, aku duduk di undakan tangga di depan pintu masuk gereja. Bahkan cuaca ikut mendukung kegalauan dua orang cewek Jakarta ini.
Aku menjauhi temanku, memintanya duduk di ujung undakan tangga yang berlawanan denganku. Kami menertawai kekonyolan kami karena pastinya kami terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Walaupun tentunya ia bukan kekasihku.
Aku tidak tahu apa yang aku lakukan di bawah atap gereja. Yeah, aku tahu aku sedang berlindung dari guyuran hujan sih. Aku juga tahu tujuan kami ke gereja adalah untuk berdoa. Aku hanya tidak tahu apa yang harus kudoakan. Aku hanya ingin mengobrol dengan Bapakku.
Setelah duduk bersebrangan, kami bedua pun hening, sibuk dengan diri kami sendiri sambil memandangi hujan dan hijaunya taman di depan gereja. Aku termasuk orang yang malas berdoa, tapi aku suka berbicara pada Tuhan. Aku membutuhkan hal itu.
Dalam pikiranku...
Dalam perbincanganku denganNya...
Aku memulai dengan "Bapa, tidak peduli aku menghadap atau membelakangiMu, aku harap Kau ada untukku dan tidak akan meninggalkanku." --karena saat itu, aku duduk membelakangi pintu gereja yang sepertinya juga membelakangi altar. Mau bagaimana lagi?
Selanjutnya... Aku memohon agar aku bisa sukses, apapun definisi sukses itu nantinya, aku gak mau tahu. Yang aku tahu, aku mau sukses. Aku mengakui padaNya bahwa permohonanku manusiawi, agaknya semua orang pasti pernah memohon hal serupa yang aku harapkan dariNya.
Dari semua permohonan...
Dari semua harapan...
Inti dari pembicaraanku kepada Tuhan kali ini sebenarnya adalah... Aku ingin melepaskan seseorang.
Seseorang yang kehadirannya tak kuharapkan,
Seseorang yang memutar-balikkan prinsipku hanya dengan eksistensinya di dalam hidupku.
Seseorang yang tanpa kusadari telah membuatku membutuhkan apa itu cinta.
Seseorang yang dengan perhatian kecilnya mampu menyuntikkan semangat kepadaku. Walau itu sekedar sapaan di pagi hari, ucapan selamat tidur di malam hari, dan salam damai di hari Minggu.
Seseorang yang seolah-olah berhasil mengembalikan kebahagiaanku yang telah mati.
Seseorang yang bahkan tidak menanyakan nomor teleponku.
Seseorang yang.... Memiliki dunia yang berbeda denganku.
Beberapa hari sebelum hari Selasa 25 Oktober ini, aku bertemu dengan seseorang tersebut. Aku tidak pernah memilikinya. Aku hanya pernah mengukir beberapa momen manis dengannya.
Entah ia sadar atau tidak.
Sudah cukup lama aku dan dia tidak berinteraksi. Aku pikir aku sudah berhasil membunuh perasaan-tanpa-masa depan itu.
Perasaan bodoh seperti arus listrik di saat pertama kali aku bertemu dengannya.
Perasaan bodoh sepihak.
Perasaan bodoh yang membuat logikaku terus menentangnya Perasaan bodoh yang terasa seperti... Sebuah kesalahan. Perasaan bodoh yang kukira telah mati, tapi ternyata kembali menyeruak ketika aku berjumpa dengannya.
Perjumpaan di detik-detik terakhir dengan detik-detik awal yang blur. Sungguh momen aneh bagiku. Aku pikir aku bisa menghindarinya. Tapi Tuhan, Kau justru memertemukan kami di posisi yang benar-benar tak terelakkan. Hahaha! Mau berlagak gak ngeliat pun gak bisa.
Well...
Bukan aku yang menginginkan perasaan itu, Tuhan.
Bila ini adalah bagian dari rencana dan kehendakMu, maka aku akan memerjuangkannya. Bila ini hanyalah sesuatu yang akan mengajariku sisi hidup yang lain, aku akan memelajarinya.
*Tuhan, bila memang dia kau hadirkan untukku, aku mohon maaf.
Maaf, aku tidak bisa, aku tidak tahu lagi cara memerjuangkannya.
Maaf, karena aku sendiri tidak melihat masa depan yang baik bagi kami berdua.
Maaf, karena aku ragu Kau menginginkannya untukku. Kami berbeda, dia terlalu positif untukku dan aku pun tidak ingin mengotori keceriaan hidupnya dengan hadir sebagai cewek sejuta masalah.
**Tuhan... Bila kehadiran seseorang itu hanyalah pelajaran bagiku, maka biarlah aku indah karena ajaran itu. Aku akan lebih kuat dan dewasa. Asal... Kau berkenan untuk menolongku yang kelewat bodoh ini untuk melepaskannya.
Aku belajar bahwa cinta yang tulus itu mampu mematahkan teori, prinsip dan standardisasi yang ku bangun.
Aku belajar untuk memerjuangkan apa yang kurasa pantas untuk ku perjuangkan. Aku rasa aku sudah cukup mencoba untuk berinteraksi dengannya, namun kesempatan pun bahkan menentang kedekatanku dengannya.
Ia sendiri tidak memerjuangkan aku. Tidak lagi.
Mungkin ia tidak menilai diriku layak atau sesuai untuknya. Mungkin aku hanya pengisi kesepian sesaat baginya.
Mungkin aku hanya sekedar seorang kenalan baginya. Mungkin... Mungkin banyak kemungkinan lain yang bisa membuatku menginap disini bila ku coba simpulkan semuanya.
Apapun alasan dia 'menghilang-begitu-saja', Dia tetap berarti lebih bagiku. Aku tidak akan membencinya. Ia akan selalu menjadi sosok spesial dalam hidupku. Sosok yang sempurna bagiku. Dia adalah orang yang tepat. Hanya saja Bapa... Tolong buat aku mengerti bahwa dia bukan untukku.
"Bukan mawar yang menghampiri kumbang, bukan cinta bila kau kejar." --> Lirik sebuah lagu.
Benarkah lirik lagu tersebut? Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, bila aku adalah si mawar dan dia adalah si kumbang...
Aku rasa aku adalah mawar yang menggugurkan dirinya untuk seekor kumbang. Mungkin di saat si kumbang lupa atau tidak tahu lagi cara untuk terbang. So... selama si kumbang masih terlalu perkasa untuk mendarat, sepertinya aku tidak boleh mengharapkannya.
Dan baiklah Tuhan, aku tahu aku harus belajar bahwa segala sesuatu yang indah tidak harus kumiliki. Aku bingung, mengapa pelajaran yang satu ini harus terus kupelajari? Tidak pernah atau belumkah aku lulus di subjek ini? Mengapa semakin aku memelajari hal ini, justru aku semakin bingung, Bapa? Aku jadi tidak tahu sampai dimana dan kapan aku harus berjuang, sampai dimana dan kapan aku harus berhenti.
Bukankah aku sudah sering ditinggalkan, Tuhan? Sampai aku tidak berharap lagi kepada manusia. Namun kau menghadirkannya. Ia mengembalikan harapan yang lagi-lagi, kini terasa palsu. Toh dimana ia sekarang? Meninggalkanku juga, seperti yang lain. Seperti ayahku, seperti orang-orang yang sempat menjadi keluarga, seperti sahabat-sahabatku. Pergi... Dan yeah, Tuhan, Kau pasti tahu, mereka pergi bukan hanya dalam hal jarak fisik. Mereka benar-benar pergi. Mereka MEMUTUSKAN untuk pergi.
Walaupun sering, tetap saja ini sakit, Tuhan. Aku mulai mati rasa. Salahkah aku?
Maaf Tuhan, maaf karena aku bodoh sebodoh-bodohnya. Oleh karena itu Tuhan, aku serahkan padaMu, selalu, dari awal sampai akhir.
Aku tidak harus dan tidak mau mengerti segala sesuatunya. Karena aku bisa gila kalau harus mengerti setiap hal di dunia. Aku hanya ingin... Kau ada untuku. Jangan tinggalkan aku Tuhan. Kaulah alasanku bertahan hidup sampai saat ini. Entah aku hidup sesat ataupun benar, yang jelas karenaMu, aku disini, Tuhan.
Oh ya, untuk temanku yang ada di ujung sana... Kami berdua sama-sama kacau Tuhan, hehe... Tapi bila Kau yang berkenan, maka kami pun bisa mengubah dunia menjadi lebih baik. Apapun Tuhan, terjadilah menurut kehendakMu. Amin...
***
Aku pun menyapukan tisu ke pipiku yang basah, cekikikan dalam kekonyolan dengan cewek yang sedang duduk di ujung lain undakan tangga, kemudian kembali menelusuri kota Bandung untuk mencari jalan pulang.
No comments:
Post a Comment