Saturday, December 24, 2011

Hidup Sebuah Panggung Sandiwara

Hidup itu memang seperti panggung sandiwara

Ada tawa

Ada duka

Ada drama

Semua yang akan berakhir dengan membungkuk dan tertutupnya tirai panggung.

Hidup untuk menunggu mati.

Sirkulasi yang konyol.

Ya, konyol.

Ibarat manusia adalah mainan bagi dunia.

Baterai habis, permainan pun usai.

Ya, konyol, bila kau hidup hanya untuk dirimu sendiri.

Datang…

Pergi…

Hanya akan seperti angin sepoi-sepoi

Mungkin dunia tidak bermaksud menjadikan kehidupan manusia sebagai mainan.

Mungkin yang terpenting bukanlah sistematika waktu sandiwara.

Mungkin yang terpenting justru adalah kisah yang terlontar dari panggung.

Kisah yang akan terus hidup.

Kisah yang tidak akan berakhir

Sekalipun tirai panggung tertutup.

Friday, December 9, 2011

Akhir untuk Awal yang Baru


1 Desember 2011


Memasuki bulan terakhir di tahun 2011 ini, gue resmi jadi sarjana ilmu komunikasi (S.I.Kom).
Acara wisuda berlangsung dari jam 9 pagi di balai samudera. Para cowok tentunya lebih santai karena tidak harus berurusan dengan kebaya, make up, dan hair do. Aaa gue iri.
But well, di momen yang langka ini, akhirnya gue belajar untuk menjadi seorang cewek tulen.

Gue baru tau ternyata di dandanin itu luar biasa pegel.

Gue baru tau pakai kebaya itu membuat gue gak bebas bergerak.
Gue baru tau kalau make-up itu fun, membuat penampilan berbeda. Tapi syukur deh, gue gak terlalu demen. Gue lebih suka dengan tampang-belom-mandi gue. Huahaha.

Walaupun pada akhirnya rok gue robek, tapi gue berhasil membuktikan bahwa gue bisa berjalan dengan mulus di bawah kebaya dan di atas sendal beralas tinggi. Syalalaa... Gue bisa jadi cewek tulen! Wohoo.
Kalau disuruh milih momen mana yang lebih berkesan: sidang atau wisuda... Gue definitely milih SIDANG!

Wisuda justru terasa... Biasa aja. Cuma menang kepo dandan + urus orangtua + foto. Err...
But well, di momen wisuda ini, gue sempet memerhatikan temen-temen gue. Wajah mereka jelas terlihat cantik. Gue membayangkan... Akan seperti apakah kami setelah momen ini? Apa yang akan kami lakukan, apakah kami masih bisa memertahankan kedekatan atau nantinya, kami akan sibuk dengan kehidupan kami masing-masing. Apalagi beberapa temen gue uda ada yang merencanakan untuk berkeluarga dalam waktu dekat.

Gue sungguh berharap, kami semua akan sukses menurut versi Pencipta kami. Gue punya cita-cita dan gue mau cita-cita tersebut. Gue yakin yang lain juga punya. Semoga kami bisa menjadi pribadi yang layak, bahkan lebih untuk sebuah gelar 'Sarjana'. Dalam hal logika, maupun personality.

Gue juga berterima-kasih pada Tuhan, para keluarga, para pengajar, para pendukung, para pengganggu, dan pada pelarian termanis di saat gue skripsi (my Alex White). Tanpa mereka, gue ga bakal bisa menyelesaikan studi dan gak bakalan menjadi pribadi seperti diri gue sekarang.

Momen wisuda ini merupakan 'finishing moment' dari perjuangan gue mendapatkan nilai A. Haha!

Momen wisuda ini merupakan 'happy ending' dari segala drama skripsi gue. Dari bolak-balik bekasi-cempaka putih-kebon jeruk-tebet buat bimbingan, akses informan yang bikin deg2an, bikin skripsi sambil nangis gara-gara patah hati, diancem pembimbing gak bakal dilulusin karena slides presentasi gue nyeleneh, sampai akhirnya gue disidang dengan tanya-jawab yang lebih seperti... Diskusi. I loved what I'd done so far. Dan itu gak mungkin kalau dilakukan tanpa kekuatan dan kemampuan yang dikehendaki Tuhan.

Momen wisuda ini merupakan momen kebanggaan. Karena gue DAN dua orang temen deket gue (SAP + CJ) bisa maju ke depan untuk mendapatkan apresiasi mahasiswa terbaik. Sukses sendirian itu biasa, tapi sukses barengan? Itu suatu kepuasan tersendiri bagi gue.
Momen wisuda merupakan penegasan terhadap awal/ start gue sebagai pribadi yang lebih 'lepas', mandiri, tegas, dan bijaksana untuk mengambil keputusan. Well, dengan segala kekonyolan dan pribadi gue yang nyentrik... Gue serahkan tahap ini, dari awal sampai akhir ke tangan Tuhan. IPK gak menjamin masa depan yang cerah, bung!

Selamat untuk semua wisudawan/wati. Selamat kepada semua pihak yang terlibat. Selamat membangun masa depan masing-masing.


Scenes

Scene I :
"Kamu gak usah mikirin hal lain. Belajar aja. Oke?"

Scene II:
Bel pulang sekolah...
Seorang anak perempuan berseragam merah-putih berlarian sambil menggendong tas sekolahnya. Matanya berbinar karena jam pelajaran telah usai. Ia menoleh beberapa kali ke lebih dari empat penjuru mata angin, mencari seseorang.
Hari ini, anak kelas lima SD itu akan pulang bersama ibunya,--yang seharusnya berada di kantor--menggantikan tantenya yang biasa menjemputnya.

Itu dia! si anak menemukan sosok ibunya. Seorang wanita jangkung berambut panjang yang mengenakan kemeja putih.
Anak itu berlari sambil nyengir, menghampiri ibunya. Namun...
Cengiran bahagia itu lenyap. Si anak berhenti berlari, mencoba memahami apa yang terjadi di depan matanya.

"Tolong ya bu, titip anak saya dulu." wanita berkemeja putih di depannya menangis, menitipkan anak itu kepada salah seorang guru sekolahnya.

Si anak hanya terdiam. Mematung, dengan mata meneliti.
"Mami nanti balik lagi. Kamu sama bu guru Sumartia dulu ya. Jangan kemana-mana." Sambil menangis, ibunya kemudian berpamitan kepada si ibu guru dan bergegas pergi, melewati gerbang sekolah, tanpa menengok lagi kepada si anak yang membeku di tempat.

Ada apa?

Scene III:
"NGATAIN APA LO BARUSAN? GUE? PELACUR?" Seorang wanita bertubuh ramping melemparkan kursi pelastik kepada seorang remaja yang baru saja mencemooh dan melukai harga dirinya. Remaja yang telah ia asuh dari kecil, yang telah ia sekolahkan dengan biaya yang membuat si wanita harus membanting tulang lebih keras.

"TANTE PELACUR!" Si remaja dengan bodohnya masih menyulut api kemarahan.

Barang-barang bertebrangan, membentur barang-barang lain. Si wanita ramping keluar dari kamar tempat peristiwa perang terjadi, kemudian ia menyeret anaknya yang berusia lebih muda daripada si remaja. Mereka berdua pergi.

Scene IV:
"Emang dasar tuh, emak sama anak sama aja."

Scene V:
"Apa?! Nangis?! Diem! Muka kamu kayak tai, tau gak? Mami gak tahan denger anak kecil nangis! DIEM!!!"

Scene VI:
"Ya... walaupun kamu juga dulu bukan anak yang diinginkan, tapi mami kan lebih bisa urus anak." Wanita yang sedang mengemudi mobil Katana tersebut tidak sadar apa yang ia bicarakan. Anak gadisnya yang kini berusia remaja, mengernyit. Hatinya bagai tertusuk anak panah beracun.

"Ya udahlah ya, gak ada yang lebih baik." Jawab si anak singkat, ia membuang muka ke jendela mobil, berpura-pura menikmati kemacetan di luar.

Scene VII:
"Dasar anak si A**m." Si ibu memandangi anaknya yang baru saja menceritakan hal konyol untuk ditertawakan. Pandangan penuh cinta dan kerinduan terhadap kekasihnya yang telah mengkhianatinya itu. Keceriaan si anak pun lenyap. Lagi-lagi, ia membuang muka, terdiam.

Scene VIII:
"Bagi mami duit buat bayar motor dong."
"Beliin rokok dong."

"Lho, mi, kok duitku di ATM abis ya?"

"Kan buat bayar asuransi."

Scene IX:
"Mami kamu tuh, kalo dateng kayak tukang todong. Tante jadi males. Malah utangnya dimana-mana."

"Mi, ini ada surat dari koperasi. Maksudnya apa ya? Tagihan... SEPULUH JUTA?"
"Iya. Mami juga dapet."
"Hah???? Jadi total berapa?"
"Dikali tiga."
"TIGA PULUH JUTA?"

Scene X:
"Ini rumah ibu X?"
"Hah? Wah... siapa tuh ibu X? Baru pernah denger namanya."
"Ya yang rumahnya disini. Dituliskan disini, alamat rumahnya jalan A nomor sekian. Disini toh?"
"Alamatnya sih bener, tapi saya gak tau orangnya. Maaf, saya baru nge-kost disini."

"Mi, debt collector-nya uda pergi. Aku kuliah dulu, ada ujian."


Scene XI:
"Mending urusin anak orang, dapet imbalan. Mami cape, di rumah cuma jadi pembantu. Mami mau pergi aja."

"Aku juga ntar lagi pergi kok."

"Sekarang kamu belum bisa apa-apa. Gimana mau pergi?"

"Makanya aku bilang NTAR. Bukan sekarang."

Scene XII:
"My Christmas wish? I want my mom to be happy. If money can make her happy, dear God, can you give her lots of money?"


Duit Anjing!!!!!!!!!!!!
Seorang wanita muda dewasa yang dulu ceria dengan seragam merah-putihnya, mengumpat di dalam hati.