Friday, December 9, 2011

Scenes

Scene I :
"Kamu gak usah mikirin hal lain. Belajar aja. Oke?"

Scene II:
Bel pulang sekolah...
Seorang anak perempuan berseragam merah-putih berlarian sambil menggendong tas sekolahnya. Matanya berbinar karena jam pelajaran telah usai. Ia menoleh beberapa kali ke lebih dari empat penjuru mata angin, mencari seseorang.
Hari ini, anak kelas lima SD itu akan pulang bersama ibunya,--yang seharusnya berada di kantor--menggantikan tantenya yang biasa menjemputnya.

Itu dia! si anak menemukan sosok ibunya. Seorang wanita jangkung berambut panjang yang mengenakan kemeja putih.
Anak itu berlari sambil nyengir, menghampiri ibunya. Namun...
Cengiran bahagia itu lenyap. Si anak berhenti berlari, mencoba memahami apa yang terjadi di depan matanya.

"Tolong ya bu, titip anak saya dulu." wanita berkemeja putih di depannya menangis, menitipkan anak itu kepada salah seorang guru sekolahnya.

Si anak hanya terdiam. Mematung, dengan mata meneliti.
"Mami nanti balik lagi. Kamu sama bu guru Sumartia dulu ya. Jangan kemana-mana." Sambil menangis, ibunya kemudian berpamitan kepada si ibu guru dan bergegas pergi, melewati gerbang sekolah, tanpa menengok lagi kepada si anak yang membeku di tempat.

Ada apa?

Scene III:
"NGATAIN APA LO BARUSAN? GUE? PELACUR?" Seorang wanita bertubuh ramping melemparkan kursi pelastik kepada seorang remaja yang baru saja mencemooh dan melukai harga dirinya. Remaja yang telah ia asuh dari kecil, yang telah ia sekolahkan dengan biaya yang membuat si wanita harus membanting tulang lebih keras.

"TANTE PELACUR!" Si remaja dengan bodohnya masih menyulut api kemarahan.

Barang-barang bertebrangan, membentur barang-barang lain. Si wanita ramping keluar dari kamar tempat peristiwa perang terjadi, kemudian ia menyeret anaknya yang berusia lebih muda daripada si remaja. Mereka berdua pergi.

Scene IV:
"Emang dasar tuh, emak sama anak sama aja."

Scene V:
"Apa?! Nangis?! Diem! Muka kamu kayak tai, tau gak? Mami gak tahan denger anak kecil nangis! DIEM!!!"

Scene VI:
"Ya... walaupun kamu juga dulu bukan anak yang diinginkan, tapi mami kan lebih bisa urus anak." Wanita yang sedang mengemudi mobil Katana tersebut tidak sadar apa yang ia bicarakan. Anak gadisnya yang kini berusia remaja, mengernyit. Hatinya bagai tertusuk anak panah beracun.

"Ya udahlah ya, gak ada yang lebih baik." Jawab si anak singkat, ia membuang muka ke jendela mobil, berpura-pura menikmati kemacetan di luar.

Scene VII:
"Dasar anak si A**m." Si ibu memandangi anaknya yang baru saja menceritakan hal konyol untuk ditertawakan. Pandangan penuh cinta dan kerinduan terhadap kekasihnya yang telah mengkhianatinya itu. Keceriaan si anak pun lenyap. Lagi-lagi, ia membuang muka, terdiam.

Scene VIII:
"Bagi mami duit buat bayar motor dong."
"Beliin rokok dong."

"Lho, mi, kok duitku di ATM abis ya?"

"Kan buat bayar asuransi."

Scene IX:
"Mami kamu tuh, kalo dateng kayak tukang todong. Tante jadi males. Malah utangnya dimana-mana."

"Mi, ini ada surat dari koperasi. Maksudnya apa ya? Tagihan... SEPULUH JUTA?"
"Iya. Mami juga dapet."
"Hah???? Jadi total berapa?"
"Dikali tiga."
"TIGA PULUH JUTA?"

Scene X:
"Ini rumah ibu X?"
"Hah? Wah... siapa tuh ibu X? Baru pernah denger namanya."
"Ya yang rumahnya disini. Dituliskan disini, alamat rumahnya jalan A nomor sekian. Disini toh?"
"Alamatnya sih bener, tapi saya gak tau orangnya. Maaf, saya baru nge-kost disini."

"Mi, debt collector-nya uda pergi. Aku kuliah dulu, ada ujian."


Scene XI:
"Mending urusin anak orang, dapet imbalan. Mami cape, di rumah cuma jadi pembantu. Mami mau pergi aja."

"Aku juga ntar lagi pergi kok."

"Sekarang kamu belum bisa apa-apa. Gimana mau pergi?"

"Makanya aku bilang NTAR. Bukan sekarang."

Scene XII:
"My Christmas wish? I want my mom to be happy. If money can make her happy, dear God, can you give her lots of money?"


Duit Anjing!!!!!!!!!!!!
Seorang wanita muda dewasa yang dulu ceria dengan seragam merah-putihnya, mengumpat di dalam hati.



No comments:

Post a Comment