Realita's
"I don't have another dream coz I'm too busy being awake, chasing the current ones"
Sunday, April 22, 2012
Sweet Rainbow Above The Broken Home
23rd Birthday
Friday, February 10, 2012
Another Lesson...
EWWW...
Pasti bakal Total ngebosenin. zzZZzZz
Baru-baru ini ada kejadian yang lumayan seru.
Di kantor yang baru empat kali gue kunjungi (it means, status gue adalah: Anak Baru), gue sempet adu argumen sama dua orang temen kantor.
Salah satunya adalah orang yang gue pikir adalah teman baik gue, karena kami udah lama kenal, pernah jalan bareng, makan bareng, bahkan tidur bareng.
Gue pikir dia udah kenal gue,
Gue pikir gue udah kenal dia.
But that was wrong.
Butuh waktu seumur hidup untuk mengenal seseorang, right?
Gue, si anak baru, nanya ke temen gue itu, yang emang lagi bercanda sama temen kantor yang lain (FIY, mereka ternyata Korean Lover), tentang apa sih RAPAT INTERNAL?
Di kantor lama, rapat internal itu adalah rapat bersama Big Boss untuk mengevaluasi hasil kerja masing2 team, kemudian mencari solusi yang lebih baik untuk proses ke depan. Rapat Internal disini, dihadiri oleh seluruh pihak, kecuali OB, Satpam, dan Resepsionis.
Maka dari itu, gue agak kaget juga, kok rapat internal diadakan pas uda jam pulang kantor? Lalu, apakah semua wajib ikut? Apakah gue SI ANAK BARU diharapkan kehadirannya??? Malah hari itu gue berencana pulang cepet.
Gue tanya, dan dijawab "Gak tau, gak tau" berlanjut dengan "gak bisa, gak bisa" dengan nada nyanyian dan gaya cewek-cewek Korea kalo lagi manggung atau kalo lagi di dalam TV.
Oke... Mereka lagi asik bercanda. Gue maklum, mari ulangi lagi pertanyaannya...
Jawaban verbal dan non verbal pun terulang. Oke.... mari ulangi...
Kali ini, gue menambahkan, "Gue serius."
Jawaban pun tetap sama, walaupun gaya Korea sudah mulai memudar.
Next question: "Elo uda pernah rapat internal sebelumnya?"
Answer: "Udah"
Tarraaaaaa...
Oke, gue gak jadi pulang.
Rapat berlangsung...
dan selesai.
Balik ke ruang kerja, dan gue pun mulai membahas kejadian sebelumnya. Dengan jelas, gue menunjukkan gue gak suka cara mereka menjawab pertanyaan gue.
Tujuan gue adalah memberitahu point of view gue, mengingat gue akan bekerja dalam satu TEAM dengan mereka. Gue gak mau kejadian tadi berulang.
Gue sebenernya sih kecewa sama temen deket gue itu. Gue masih inget banget dia pernah gregetan sama adik cowoknya, yang kalo ditanya "Kenapa kamu suka itu?" terus jawabannya, "Gak tau, pokoknya, aku suka aja."
NAH!
Gue sempet mau bahas itu sih pas kami lagi bahas masalah ini. Tapi berhubung ada orang lain, kayaknya gak enak juga kalo gue bawa-bawa perumpamaan itu.
Gue juga kaget, temen gue yang biasanya tau cara mengkritisi sesuatu dan bukan tipe "Ya udalah", melainkan tipe "Let's finish this problem", tiba-tiba malah minta maaf.
WHAT THE....
Lho lho lho??? Minta maaf buat apa?? Emang gue disini lagi bahas siapa yang salah dan siapa yang benar????
Emangnya gue lagi berusaha untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah???
"Oh! God!" Gue bergumam sambil memandang gak-percaya ke dalam mata temen gue itu.
Saat itu gue tersadar akan sesuatu: Gue GAK kenal dia! hahahaa!!!!
Dan dari point of view dia, gue ngerti kok, kalau dia (sm temen kantor lain yang bersangkutan), mungkin gak tau cara menjelaskan, karena ternyata Rapat Internal di budaya kantor ini adalah varian.
Dari penjelasan mereka bahwa rapat internal itu berubah-ubah, gue ngerti.
Tapi, sebenernya, maksud gue membahas kejadian tadi BUKAN LAGI untuk mendefinisikan APA ITU The-God-Damn Rapat Internal.
Gue cuma mau nanya, kenapa dia--manusia yang gue anggap tau cara jelasin sedikiiiittt aja tentang secuil sejarah dalam hidupnya (karena dia kan uda pernah ngalamin rapat internal itu, masa iya, gak ada gambaran sama sekali waktu itu ngapain aja???)--ngejawab kayak gitu.
Percaya atau gak, gue sebenernya mikirin temen gue itu,--yang sebentar lagi bakal jadi supervisor-- gimana jadinya dia kalo ditanya hal simple tentang pengalaman dia sendiri aja, dia gak bisa jelasin. Gimana nantinya dia bisa handle bawahan or klien kalo jawaban dia begitu? Dengan cara seperti itu? Terkutuklah GilrBand Korea. hahaha!
Tapi, lagi-lagi, gue gak bahas ini. Siapa gue yang berani menggurui dia?? Toh gue gak lebih pinter dan berpengalaman dari dia? So... yang bisa gue lakukan adalah mencoba memberikan dia masukan melalui point of view gue (sampe gue kasih contoh, kalo misalnya ada anak baru nanti, yang menanyakan soal yang sama, gue bakal jawab gimana) walaupun... tenyata di-interpretasikan secara negatif.
Soal temen yang satu lagi, gue gak terlalu peduli sih, dia mungkin ikut sewot karena dia belum terlalu mengenal gue. Apalagi dia emang lagi bad mood dari pagi karena urusan sama abang angkot dan abang bajaj. Plus kerjaannya lagi numpuk.
Selanjutnya, mereka terus-terusan menerangkan bahwa mereka sendiri GAK TAU Rapat Internal bakalan ngapain aja. Kalo mereka tau, mereka pasti ngasih tau gue.
OMIGOD... YES, LADIES, gue ngerti pandangan kalian. Yang secara sadar, gue tangkep, uda berkembang ke arah yang lebih negatif: gue maybe dianggap membesar-besarkan masalah kecil, gue dianggap tipe yang terlalu berhati-hati. Mereka nasehatin gue biar enjoy aja, jalanin aja, learning by doing.
Yang gue GAK ngerti adalah... kenapa mereka bersikap DEFENSIF? Seolah mempertahankan diri dari serangan gue, padahal maksud gue, gue mau kami semua tuh solid ketika mencari solusi nantinya. I know this sounds like a bullshit or teoretis. Tapi emang tujuan gue adalah itu.
Dan lagi-lagi, gue kecewa sama temen baik gue yang bersikap seakan dia gak kenal gue dan baru sekali ini ngobrol sama gue. Gue sempet mikir, "Ni anak seharusnya tau-lah, gue bukan tipe pencari masalah, buat apa gue ngebahas hal yang gue anggap gak penting?"
Saat itu... gue sadar, kelulusan gue sebagai Mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi gak nolong banyak. HA-HA.
Doh!
Selanjutnya.... masalah pun berhenti (gak yakin uda selesai apa belom, tapi yang jelas, masalah itu berhenti) ketika senior turun tangan. Hmm.. sekarang siapa yang membesar-besarkan masalah sampe melibatkan senior? Salahkan situasi.
Dari kondisi itu... gue belajar banyak.
*Setelah dipikir-pikir, maybe sebaiknya pertanyaan gue bukanlah "Kayak apa sih Rapat Internal" atau "Rapat Internal itu ngapain aja biasanya?"
Maybe it should've been: "Oh... pas rapat internal WAKTU ITU, elo ngapain aja?"
Oke, ini salah gue. Gue sebaiknya lebih berpikir lagi mengenai eksekusi verbal.
*Gue semakin menjunjung tinggi kata "Maaf". Jangan minta maaf untuk hal yang bahkan diri lo sendiri gak tau. Walaupun mungkin maksud lo adalah untuk mengalah, tapi menurut gue, itu justru bisa jadi bibit negatif.
Kata "maaf" yang terlalu gampang untuk diucapkan akan terasa hambar. APALAGI diucapkan untuk kesalahan/ situasi yang sama. So, please, junjung tinggi betapa berharganya permintaan maaf.
Maaf menyelesaikan masalah begitu aja? Gak. Itu bisa jadi justru memupuk kesalahan kecil. Itu bisa jadi justru hanya menunda masalah.
So... lebih baik selesaikan masalah dengan frontal daripada menunda-nya dengan kata "maaf" yang tedengar manis.
PS: Frontal untuk orang-orang yang terlibat aja lho ya, gak usa melibatkan pihak lain lah. Kalo uda dewasa, seharusnya bisa selesain BERSAMA, tanpa memperluas jaringan masalah.
Oke, gue jadi sarkastik. hahaha!
* Well, masing-masing orang berbeda. Itu adalah indah bagi gue yang emang suka sama perbedaan. Perbedaan adalah kekayaan dan seni tersendiri bagi gue. Gue gak menuntut siapapun untuk memiliki PERSEPSI YANG SAMA dengan gue. Tapi, ketika gue bisa mendapatkan persepsi orang lain dan gue anggap orang lain perlu tau point of view gue, gue akan mencoba menjelaskannya.
Nah... yang susah adalah, bagaimana membawa masing-masing pihak untuk membahas masalah DILUAR sudut pandang masing-masing. Inilah mengapa gue mau membahas masalah se-simple "Rapat Internal". Gue pengen tau karakter team gue, mencoba untuk bekerjasama dalam menemukan solusi.
*Gue belajar mengenai budaya timur! Dan ya ampun... selama ini emangnya gue dimaneh??? Amerika? LOL.
Budaya timur gak siap dengan sikap frontal. Semua LEBIH BAIK dikemas dengan penyampaian komunikasi yang lebih lembut, lebih sopan. Perumpamaan yang samar sepertinya akan lebih membantu.
Oke, gue salah lagi disini. Besok-besok gue bakal coba berkomunikasi dengan lebih datar. Salahkan film Hollywood yang mengasuh gueh! hhaaahahaaa
*Gue belajar bahwa... sebagai orang baru, ternyata gue harus menekan semangat gue yang berlebihan untuk mengetahui ini-itu.
*Gue belajar bahwa... malu bertanya, sesat di jalan, kebanyakan nanya, malah bisa-bisa keluar dari jalan.
*Gue belajar bahwa no matter seberapa banyak orang yang gak suka sama diri kita, well, you don't need the whole world to love you.
*Gue belajar untuk tidak berekspektasi pada manusia, sekalipun itu adalah teman baik, bahkan belahan jiwa kita.
Sekarang gue dan kedua teman tersebut sudah bisa haha-hihi bareng lagi. Semoga masalah di atas justru membuat kami saling kenal dan saling tau cara berinteraksi satu sama lain. Satu hal yang pasti, I won't hate them.
xoxo
Thanks for giving me this lesson(s).
Heyho 2012! Though It's a bit Late.
Gue nyerah. haha!
Gue pikir blog ini mau gue tutup (no more updates), di penghujung 2011.
Gue mau ninggalin sisi gelap yang beberapa di antaranya udah gue tuangin ke blog yang berperan sebagai "Tempat Sampah" ini.
Gue mau fokus ke blog gue yang isinya lebih informatif dan positif instead of emosional.
TAPI...
Ternyata gak sedikit juga orang yang suka sama blog ini (padahal gue jarang publish eksistensinya di ruang lain).
W-O-W.
Kalau kisah yang ada dalam blog ini bisa bermanfaat dan support siapapun yang membacanya, gue sangat bersyukur.
Maka dari itu...akhirnya gue mikir-mikir lagi....
Apa gue tetep posting di blog ini ya?
Baiklah... aku kembali!!!
Realita
Saturday, December 24, 2011
Hidup Sebuah Panggung Sandiwara
Hidup itu memang seperti panggung sandiwara
Ada tawa
Ada duka
Ada drama
Semua yang akan berakhir dengan membungkuk dan tertutupnya tirai panggung.
Hidup untuk menunggu mati.
Sirkulasi yang konyol.
Ya, konyol.
Ibarat manusia adalah mainan bagi dunia.
Baterai habis, permainan pun usai.
Ya, konyol, bila kau hidup hanya untuk dirimu sendiri.
Datang…
Pergi…
Hanya akan seperti angin sepoi-sepoi
Mungkin dunia tidak bermaksud menjadikan kehidupan manusia sebagai mainan.
Mungkin yang terpenting bukanlah sistematika waktu sandiwara.
Mungkin yang terpenting justru adalah kisah yang terlontar dari panggung.
Kisah yang akan terus hidup.
Kisah yang tidak akan berakhir
Sekalipun tirai panggung tertutup.
Friday, December 9, 2011
Akhir untuk Awal yang Baru
1 Desember 2011
Memasuki bulan terakhir di tahun 2011 ini, gue resmi jadi sarjana ilmu komunikasi (S.I.Kom).
Acara wisuda berlangsung dari jam 9 pagi di balai samudera. Para cowok tentunya lebih santai karena tidak harus berurusan dengan kebaya, make up, dan hair do. Aaa gue iri.
But well, di momen yang langka ini, akhirnya gue belajar untuk menjadi seorang cewek tulen.
Gue baru tau ternyata di dandanin itu luar biasa pegel.
Gue baru tau pakai kebaya itu membuat gue gak bebas bergerak.
Gue baru tau kalau make-up itu fun, membuat penampilan berbeda. Tapi syukur deh, gue gak terlalu demen. Gue lebih suka dengan tampang-belom-mandi gue. Huahaha.
Walaupun pada akhirnya rok gue robek, tapi gue berhasil membuktikan bahwa gue bisa berjalan dengan mulus di bawah kebaya dan di atas sendal beralas tinggi. Syalalaa... Gue bisa jadi cewek tulen! Wohoo.
Kalau disuruh milih momen mana yang lebih berkesan: sidang atau wisuda... Gue definitely milih SIDANG!
Wisuda justru terasa... Biasa aja. Cuma menang kepo dandan + urus orangtua + foto. Err...
But well, di momen wisuda ini, gue sempet memerhatikan temen-temen gue. Wajah mereka jelas terlihat cantik. Gue membayangkan... Akan seperti apakah kami setelah momen ini? Apa yang akan kami lakukan, apakah kami masih bisa memertahankan kedekatan atau nantinya, kami akan sibuk dengan kehidupan kami masing-masing. Apalagi beberapa temen gue uda ada yang merencanakan untuk berkeluarga dalam waktu dekat.
Gue sungguh berharap, kami semua akan sukses menurut versi Pencipta kami. Gue punya cita-cita dan gue mau cita-cita tersebut. Gue yakin yang lain juga punya. Semoga kami bisa menjadi pribadi yang layak, bahkan lebih untuk sebuah gelar 'Sarjana'. Dalam hal logika, maupun personality.
Gue juga berterima-kasih pada Tuhan, para keluarga, para pengajar, para pendukung, para pengganggu, dan pada pelarian termanis di saat gue skripsi (my Alex White). Tanpa mereka, gue ga bakal bisa menyelesaikan studi dan gak bakalan menjadi pribadi seperti diri gue sekarang.
Momen wisuda ini merupakan 'finishing moment' dari perjuangan gue mendapatkan nilai A. Haha!
Momen wisuda ini merupakan 'happy ending' dari segala drama skripsi gue. Dari bolak-balik bekasi-cempaka putih-kebon jeruk-tebet buat bimbingan, akses informan yang bikin deg2an, bikin skripsi sambil nangis gara-gara patah hati, diancem pembimbing gak bakal dilulusin karena slides presentasi gue nyeleneh, sampai akhirnya gue disidang dengan tanya-jawab yang lebih seperti... Diskusi. I loved what I'd done so far. Dan itu gak mungkin kalau dilakukan tanpa kekuatan dan kemampuan yang dikehendaki Tuhan.
Momen wisuda ini merupakan momen kebanggaan. Karena gue DAN dua orang temen deket gue (SAP + CJ) bisa maju ke depan untuk mendapatkan apresiasi mahasiswa terbaik. Sukses sendirian itu biasa, tapi sukses barengan? Itu suatu kepuasan tersendiri bagi gue.
Momen wisuda merupakan penegasan terhadap awal/ start gue sebagai pribadi yang lebih 'lepas', mandiri, tegas, dan bijaksana untuk mengambil keputusan. Well, dengan segala kekonyolan dan pribadi gue yang nyentrik... Gue serahkan tahap ini, dari awal sampai akhir ke tangan Tuhan. IPK gak menjamin masa depan yang cerah, bung!
Scenes
"Kamu gak usah mikirin hal lain. Belajar aja. Oke?"
Scene II:
Bel pulang sekolah...
Seorang anak perempuan berseragam merah-putih berlarian sambil menggendong tas sekolahnya. Matanya berbinar karena jam pelajaran telah usai. Ia menoleh beberapa kali ke lebih dari empat penjuru mata angin, mencari seseorang.
Hari ini, anak kelas lima SD itu akan pulang bersama ibunya,--yang seharusnya berada di kantor--menggantikan tantenya yang biasa menjemputnya.
Itu dia! si anak menemukan sosok ibunya. Seorang wanita jangkung berambut panjang yang mengenakan kemeja putih.
Anak itu berlari sambil nyengir, menghampiri ibunya. Namun...
Cengiran bahagia itu lenyap. Si anak berhenti berlari, mencoba memahami apa yang terjadi di depan matanya.
"Tolong ya bu, titip anak saya dulu." wanita berkemeja putih di depannya menangis, menitipkan anak itu kepada salah seorang guru sekolahnya.
Si anak hanya terdiam. Mematung, dengan mata meneliti.
"Mami nanti balik lagi. Kamu sama bu guru Sumartia dulu ya. Jangan kemana-mana." Sambil menangis, ibunya kemudian berpamitan kepada si ibu guru dan bergegas pergi, melewati gerbang sekolah, tanpa menengok lagi kepada si anak yang membeku di tempat.
Scene III:
"NGATAIN APA LO BARUSAN? GUE? PELACUR?" Seorang wanita bertubuh ramping melemparkan kursi pelastik kepada seorang remaja yang baru saja mencemooh dan melukai harga dirinya. Remaja yang telah ia asuh dari kecil, yang telah ia sekolahkan dengan biaya yang membuat si wanita harus membanting tulang lebih keras.
"TANTE PELACUR!" Si remaja dengan bodohnya masih menyulut api kemarahan.
Barang-barang bertebrangan, membentur barang-barang lain. Si wanita ramping keluar dari kamar tempat peristiwa perang terjadi, kemudian ia menyeret anaknya yang berusia lebih muda daripada si remaja. Mereka berdua pergi.
Scene IV:
"Emang dasar tuh, emak sama anak sama aja."
Scene V:
"Apa?! Nangis?! Diem! Muka kamu kayak tai, tau gak? Mami gak tahan denger anak kecil nangis! DIEM!!!"
Scene VI:
"Ya... walaupun kamu juga dulu bukan anak yang diinginkan, tapi mami kan lebih bisa urus anak." Wanita yang sedang mengemudi mobil Katana tersebut tidak sadar apa yang ia bicarakan. Anak gadisnya yang kini berusia remaja, mengernyit. Hatinya bagai tertusuk anak panah beracun.
"Ya udahlah ya, gak ada yang lebih baik." Jawab si anak singkat, ia membuang muka ke jendela mobil, berpura-pura menikmati kemacetan di luar.
Scene VII:
"Dasar anak si A**m." Si ibu memandangi anaknya yang baru saja menceritakan hal konyol untuk ditertawakan. Pandangan penuh cinta dan kerinduan terhadap kekasihnya yang telah mengkhianatinya itu. Keceriaan si anak pun lenyap. Lagi-lagi, ia membuang muka, terdiam.
Scene VIII:
"Bagi mami duit buat bayar motor dong."
"Beliin rokok dong."
"Lho, mi, kok duitku di ATM abis ya?"
"Kan buat bayar asuransi."
Scene IX:
"Mami kamu tuh, kalo dateng kayak tukang todong. Tante jadi males. Malah utangnya dimana-mana."
"Mi, ini ada surat dari koperasi. Maksudnya apa ya? Tagihan... SEPULUH JUTA?"
"Iya. Mami juga dapet."
"Hah???? Jadi total berapa?"
"Dikali tiga."
"TIGA PULUH JUTA?"
Scene X:
"Ini rumah ibu X?"
"Hah? Wah... siapa tuh ibu X? Baru pernah denger namanya."
"Ya yang rumahnya disini. Dituliskan disini, alamat rumahnya jalan A nomor sekian. Disini toh?"
"Alamatnya sih bener, tapi saya gak tau orangnya. Maaf, saya baru nge-kost disini."
"Mi, debt collector-nya uda pergi. Aku kuliah dulu, ada ujian."
Scene XI:
"Mending urusin anak orang, dapet imbalan. Mami cape, di rumah cuma jadi pembantu. Mami mau pergi aja."
"Aku juga ntar lagi pergi kok."
"Sekarang kamu belum bisa apa-apa. Gimana mau pergi?"
"Makanya aku bilang NTAR. Bukan sekarang."
Scene XII:
"My Christmas wish? I want my mom to be happy. If money can make her happy, dear God, can you give her lots of money?"
Seorang wanita muda dewasa yang dulu ceria dengan seragam merah-putihnya, mengumpat di dalam hati.