Saturday, December 24, 2011

Hidup Sebuah Panggung Sandiwara

Hidup itu memang seperti panggung sandiwara

Ada tawa

Ada duka

Ada drama

Semua yang akan berakhir dengan membungkuk dan tertutupnya tirai panggung.

Hidup untuk menunggu mati.

Sirkulasi yang konyol.

Ya, konyol.

Ibarat manusia adalah mainan bagi dunia.

Baterai habis, permainan pun usai.

Ya, konyol, bila kau hidup hanya untuk dirimu sendiri.

Datang…

Pergi…

Hanya akan seperti angin sepoi-sepoi

Mungkin dunia tidak bermaksud menjadikan kehidupan manusia sebagai mainan.

Mungkin yang terpenting bukanlah sistematika waktu sandiwara.

Mungkin yang terpenting justru adalah kisah yang terlontar dari panggung.

Kisah yang akan terus hidup.

Kisah yang tidak akan berakhir

Sekalipun tirai panggung tertutup.

Friday, December 9, 2011

Akhir untuk Awal yang Baru


1 Desember 2011


Memasuki bulan terakhir di tahun 2011 ini, gue resmi jadi sarjana ilmu komunikasi (S.I.Kom).
Acara wisuda berlangsung dari jam 9 pagi di balai samudera. Para cowok tentunya lebih santai karena tidak harus berurusan dengan kebaya, make up, dan hair do. Aaa gue iri.
But well, di momen yang langka ini, akhirnya gue belajar untuk menjadi seorang cewek tulen.

Gue baru tau ternyata di dandanin itu luar biasa pegel.

Gue baru tau pakai kebaya itu membuat gue gak bebas bergerak.
Gue baru tau kalau make-up itu fun, membuat penampilan berbeda. Tapi syukur deh, gue gak terlalu demen. Gue lebih suka dengan tampang-belom-mandi gue. Huahaha.

Walaupun pada akhirnya rok gue robek, tapi gue berhasil membuktikan bahwa gue bisa berjalan dengan mulus di bawah kebaya dan di atas sendal beralas tinggi. Syalalaa... Gue bisa jadi cewek tulen! Wohoo.
Kalau disuruh milih momen mana yang lebih berkesan: sidang atau wisuda... Gue definitely milih SIDANG!

Wisuda justru terasa... Biasa aja. Cuma menang kepo dandan + urus orangtua + foto. Err...
But well, di momen wisuda ini, gue sempet memerhatikan temen-temen gue. Wajah mereka jelas terlihat cantik. Gue membayangkan... Akan seperti apakah kami setelah momen ini? Apa yang akan kami lakukan, apakah kami masih bisa memertahankan kedekatan atau nantinya, kami akan sibuk dengan kehidupan kami masing-masing. Apalagi beberapa temen gue uda ada yang merencanakan untuk berkeluarga dalam waktu dekat.

Gue sungguh berharap, kami semua akan sukses menurut versi Pencipta kami. Gue punya cita-cita dan gue mau cita-cita tersebut. Gue yakin yang lain juga punya. Semoga kami bisa menjadi pribadi yang layak, bahkan lebih untuk sebuah gelar 'Sarjana'. Dalam hal logika, maupun personality.

Gue juga berterima-kasih pada Tuhan, para keluarga, para pengajar, para pendukung, para pengganggu, dan pada pelarian termanis di saat gue skripsi (my Alex White). Tanpa mereka, gue ga bakal bisa menyelesaikan studi dan gak bakalan menjadi pribadi seperti diri gue sekarang.

Momen wisuda ini merupakan 'finishing moment' dari perjuangan gue mendapatkan nilai A. Haha!

Momen wisuda ini merupakan 'happy ending' dari segala drama skripsi gue. Dari bolak-balik bekasi-cempaka putih-kebon jeruk-tebet buat bimbingan, akses informan yang bikin deg2an, bikin skripsi sambil nangis gara-gara patah hati, diancem pembimbing gak bakal dilulusin karena slides presentasi gue nyeleneh, sampai akhirnya gue disidang dengan tanya-jawab yang lebih seperti... Diskusi. I loved what I'd done so far. Dan itu gak mungkin kalau dilakukan tanpa kekuatan dan kemampuan yang dikehendaki Tuhan.

Momen wisuda ini merupakan momen kebanggaan. Karena gue DAN dua orang temen deket gue (SAP + CJ) bisa maju ke depan untuk mendapatkan apresiasi mahasiswa terbaik. Sukses sendirian itu biasa, tapi sukses barengan? Itu suatu kepuasan tersendiri bagi gue.
Momen wisuda merupakan penegasan terhadap awal/ start gue sebagai pribadi yang lebih 'lepas', mandiri, tegas, dan bijaksana untuk mengambil keputusan. Well, dengan segala kekonyolan dan pribadi gue yang nyentrik... Gue serahkan tahap ini, dari awal sampai akhir ke tangan Tuhan. IPK gak menjamin masa depan yang cerah, bung!

Selamat untuk semua wisudawan/wati. Selamat kepada semua pihak yang terlibat. Selamat membangun masa depan masing-masing.


Scenes

Scene I :
"Kamu gak usah mikirin hal lain. Belajar aja. Oke?"

Scene II:
Bel pulang sekolah...
Seorang anak perempuan berseragam merah-putih berlarian sambil menggendong tas sekolahnya. Matanya berbinar karena jam pelajaran telah usai. Ia menoleh beberapa kali ke lebih dari empat penjuru mata angin, mencari seseorang.
Hari ini, anak kelas lima SD itu akan pulang bersama ibunya,--yang seharusnya berada di kantor--menggantikan tantenya yang biasa menjemputnya.

Itu dia! si anak menemukan sosok ibunya. Seorang wanita jangkung berambut panjang yang mengenakan kemeja putih.
Anak itu berlari sambil nyengir, menghampiri ibunya. Namun...
Cengiran bahagia itu lenyap. Si anak berhenti berlari, mencoba memahami apa yang terjadi di depan matanya.

"Tolong ya bu, titip anak saya dulu." wanita berkemeja putih di depannya menangis, menitipkan anak itu kepada salah seorang guru sekolahnya.

Si anak hanya terdiam. Mematung, dengan mata meneliti.
"Mami nanti balik lagi. Kamu sama bu guru Sumartia dulu ya. Jangan kemana-mana." Sambil menangis, ibunya kemudian berpamitan kepada si ibu guru dan bergegas pergi, melewati gerbang sekolah, tanpa menengok lagi kepada si anak yang membeku di tempat.

Ada apa?

Scene III:
"NGATAIN APA LO BARUSAN? GUE? PELACUR?" Seorang wanita bertubuh ramping melemparkan kursi pelastik kepada seorang remaja yang baru saja mencemooh dan melukai harga dirinya. Remaja yang telah ia asuh dari kecil, yang telah ia sekolahkan dengan biaya yang membuat si wanita harus membanting tulang lebih keras.

"TANTE PELACUR!" Si remaja dengan bodohnya masih menyulut api kemarahan.

Barang-barang bertebrangan, membentur barang-barang lain. Si wanita ramping keluar dari kamar tempat peristiwa perang terjadi, kemudian ia menyeret anaknya yang berusia lebih muda daripada si remaja. Mereka berdua pergi.

Scene IV:
"Emang dasar tuh, emak sama anak sama aja."

Scene V:
"Apa?! Nangis?! Diem! Muka kamu kayak tai, tau gak? Mami gak tahan denger anak kecil nangis! DIEM!!!"

Scene VI:
"Ya... walaupun kamu juga dulu bukan anak yang diinginkan, tapi mami kan lebih bisa urus anak." Wanita yang sedang mengemudi mobil Katana tersebut tidak sadar apa yang ia bicarakan. Anak gadisnya yang kini berusia remaja, mengernyit. Hatinya bagai tertusuk anak panah beracun.

"Ya udahlah ya, gak ada yang lebih baik." Jawab si anak singkat, ia membuang muka ke jendela mobil, berpura-pura menikmati kemacetan di luar.

Scene VII:
"Dasar anak si A**m." Si ibu memandangi anaknya yang baru saja menceritakan hal konyol untuk ditertawakan. Pandangan penuh cinta dan kerinduan terhadap kekasihnya yang telah mengkhianatinya itu. Keceriaan si anak pun lenyap. Lagi-lagi, ia membuang muka, terdiam.

Scene VIII:
"Bagi mami duit buat bayar motor dong."
"Beliin rokok dong."

"Lho, mi, kok duitku di ATM abis ya?"

"Kan buat bayar asuransi."

Scene IX:
"Mami kamu tuh, kalo dateng kayak tukang todong. Tante jadi males. Malah utangnya dimana-mana."

"Mi, ini ada surat dari koperasi. Maksudnya apa ya? Tagihan... SEPULUH JUTA?"
"Iya. Mami juga dapet."
"Hah???? Jadi total berapa?"
"Dikali tiga."
"TIGA PULUH JUTA?"

Scene X:
"Ini rumah ibu X?"
"Hah? Wah... siapa tuh ibu X? Baru pernah denger namanya."
"Ya yang rumahnya disini. Dituliskan disini, alamat rumahnya jalan A nomor sekian. Disini toh?"
"Alamatnya sih bener, tapi saya gak tau orangnya. Maaf, saya baru nge-kost disini."

"Mi, debt collector-nya uda pergi. Aku kuliah dulu, ada ujian."


Scene XI:
"Mending urusin anak orang, dapet imbalan. Mami cape, di rumah cuma jadi pembantu. Mami mau pergi aja."

"Aku juga ntar lagi pergi kok."

"Sekarang kamu belum bisa apa-apa. Gimana mau pergi?"

"Makanya aku bilang NTAR. Bukan sekarang."

Scene XII:
"My Christmas wish? I want my mom to be happy. If money can make her happy, dear God, can you give her lots of money?"


Duit Anjing!!!!!!!!!!!!
Seorang wanita muda dewasa yang dulu ceria dengan seragam merah-putihnya, mengumpat di dalam hati.



Monday, November 28, 2011

Alasan untuk Hanya Terdiam


Banyak anak-anak yang jago adu mulut ketika mereka ditegur oleh orangtua mereka. Bahkan, banyak juga yang "membinatangkan" orangtua. Ngatain orangtua "anjing", "monyet", "tai", dan hal hina lainnya.

Sebagai anak, gue tau kok rasanya bertengkar sama nyokap (well, gue ga pernah punya sosok bokap). Nyokap gue itu... selalu benar! Paling sombong, kepala batu. Banyak yang sependapat dengan gue mengenai hal itu. Nyokap bukan tipe yang bisa diajak diskusi. Dia bakal nyolot duluan sebelum mempertimbangkan
point of view gue. Jangankan mempertimbangkan, didengerin aja kagak.

Tapi seumur idup, gue gak pernah tuh ngatain beliau dengan nama binatang. Kalo gue berantem sama nyokap, gue mending masuk kamar atau menjauh sebelum merobek hati beliau. Daripada gue memperkeruh keadaan, mending gue maki-maki tembok. Serius deh.

Kesendirian gue dan keputusan gue untuk DIAM ketika gue marah... selalu mendatangkan sudut pandang lebih luas serta sikap yang lebih matang. Seiring hati dan pikiran gue tenang, jalan keluar dari masalahpun muncul. Bahkan, bisa banyak dan beragam.

Ketika gue emosi, marah, benci sama nyokap...
Keputusan gue untuk DIAM mengingatkan kembali bahwa beliau PERNAH memutuskan untuk MEMPERJUANGKAN gue. Dari ngelahirin gue, sampai merawat gue.

Keputusan gue untuk DIAM mengingatkan gue bahwa sakit hati ditinggalin pacar/ kekasih itu gak se-simpel ketusuk jarum di ujung jari. Gue termasuk orang yang payah untuk move on
Itulah yang gue pertimbangin.

Kenyataan bahwa kadang nyokap gue dengan matanya yang sedih bilang, "Kamu mirip papi." membuat gue bersalah. Gue tau itu bukan salah gue. Tapi,
kalau putus cinta. NAH! Bayangin aja, gimana kalau gue sampe punya anak terus ditinggalin? Bisa-bisa gue bunuh diri. Wong baru putus cinta yang seumur jagung aja gue butuh berbulan-bulan untuk ngelupain si dia, apalagi kalau sampe disisain "suvenir" dari sang kekasih??? Gue jamin, kaga bisa lupa sama si penyumbang DNA anak gue. c'mon, anak-anak yang orangtuanya berpisah pasti ngerti perasaan begini nih. Perasaan bersalah yang timbul dan menuduh diri sendiri sebagai sebab perpisahan kedua orangtua. Atau sejenisnya lah.

Well... gue berterima kasih sama nyokap, yang sebagai seorang wanita, mampu
survive dari rasa patah hatinya. Mampu menghadapi figur yang AKAN SELALU mengingatkan beliau dengan sosok bokap gue. Mampu menjadi ORANGTUA TUNGGAL untuk bertahun-tahun.

Keputusan gue untuk DIAM mengingatkan gue bahwa sekuat-kuatnya SUPERMAN, dia juga RAPUH. Apalagi nyokap gue??? Gue GAK bisa dan GAK AKAN bisa jadi anak yang SEMPURNA. Dan gue pun gak berhak menuntut nyokap gue untuk sempurna.

Itulah alasan-alasan yang gue pegang dan gue ingat-ingat ketika gue dibakar kemarahan. Gue harap... kalian yang masih memiliki orangtua, APALAGI kalau kalian punya situasi yang sama kayak gue
(single-parent), tolong.... jangan dengan gampangnya memaki orangtua kalian.
Kalaupun kesel, bete, galau, benci... mungkin kalian bisa berDIAM diri dulu. Biarin aja orangtua nyerocos terus, yang penting, api yang uda nyala gak usah disulut untuk lebih berkobar lagi.

Walaupun sebagai anak kita gak minta dilahirkan... orangtua tetap layak untuk dihormati. Setidaknya dihormati atas keputusan mereka untuk menghadirkan kita ke dunia.

Wednesday, October 26, 2011

Bye Wonderland, Bye Peter Pan


25 Oktober 2011
Hari ini aku dan seorang teman yang spesial di hatiku mengunjungi sebuah gereja. Aku tidak tahu apa nama gereja tersebut. Namun demikian, palang di samping pintu masuk utama gereja bertuliskan: Gereja Santa Perawan Maria Sapta Duka. Well, anggaplah itu namanya.

Kami berdua menelusuri tepi timur gereja tetapi tidak satu pintupun terbuka. Hari ini memang bukan hari Minggu, tapi setahuku, gereja akan tetap membuka pintu bagi umatnya.
Aku setengah berlari menuju tepi lain gereja. Secercah harapan muncul ketika aku melihat sebuah taman kecil dengan gua Maria di pojoknya. Sayangnya... Pintu pagar yang menuju ke goa tersebut juga terkunci.

Okelah kalau begitu, mari bergalau ria di depan pintu masuk utama. Berdua dengan temanku, aku duduk di undakan tangga di depan pintu masuk gereja. Bahkan cuaca ikut mendukung kegalauan dua orang cewek Jakarta ini.

Aku menjauhi temanku, memintanya duduk di ujung undakan tangga yang berlawanan denganku. Kami menertawai kekonyolan kami karena pastinya kami terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Walaupun tentunya ia bukan kekasihku.


Aku tidak tahu apa yang aku lakukan di bawah atap gereja. Yeah, aku tahu aku sedang berlindung dari guyuran hujan sih. Aku juga tahu tujuan kami ke gereja adalah untuk berdoa. Aku hanya tidak tahu apa yang harus kudoakan. Aku hanya ingin mengobrol dengan Bapakku.


Setelah duduk bersebrangan, kami bedua pun hening, sibuk dengan diri kami sendiri sambil memandangi hujan dan hijaunya taman di depan gereja.
Aku termasuk orang yang malas berdoa, tapi aku suka berbicara pada Tuhan. Aku membutuhkan hal itu.

Dalam pikiranku...
Dalam perbincanganku denganNya...

Aku memulai dengan "Bapa, tidak peduli aku menghadap atau membelakangiMu, aku harap Kau ada untukku dan tidak akan meninggalkanku." --karena saat itu, aku duduk membelakangi pintu gereja yang sepertinya juga membelakangi altar. Mau bagaimana lagi?


Selanjutnya...
Aku memohon agar aku bisa sukses, apapun definisi sukses itu nantinya, aku gak mau tahu. Yang aku tahu, aku mau sukses. Aku mengakui padaNya bahwa permohonanku manusiawi, agaknya semua orang pasti pernah memohon hal serupa yang aku harapkan dariNya.

Dari semua permohonan...
Dari semua harapan...
Inti dari pembicaraanku kepada Tuhan kali ini sebenarnya adalah... Aku ingin melepaskan seseorang.

Seseorang yang kehadirannya tak kuharapkan,

Seseorang yang memutar-balikkan prinsipku hanya dengan eksistensinya di dalam hidupku.


Seseorang yang tanpa kusadari telah membuatku membutuhkan apa itu cinta.

Seseorang yang dengan perhatian kecilnya mampu menyuntikkan semangat kepadaku. Walau itu sekedar sapaan di pagi hari, ucapan selamat tidur di malam hari, dan salam damai di hari Minggu.

Seseorang yang seolah-olah berhasil mengembalikan kebahagiaanku yang telah mati.


Seseorang yang bahkan tidak menanyakan nomor teleponku.

Seseorang yang.... Memiliki dunia yang berbeda denganku.

Beberapa hari sebelum hari Selasa 25 Oktober ini, aku bertemu dengan seseorang tersebut. Aku tidak pernah memilikinya. Aku hanya pernah mengukir beberapa momen manis dengannya.
Entah ia sadar atau tidak.


Sudah cukup lama aku dan dia tidak berinteraksi. Aku pikir aku sudah berhasil membunuh perasaan-tanpa-masa depan itu.


Perasaan bodoh seperti arus listrik di saat pertama kali aku bertemu dengannya.

Perasaan bodoh sepihak.

Perasaan bodoh yang membuat logikaku terus menentangnya
Perasaan bodoh yang terasa seperti... Sebuah kesalahan. Perasaan bodoh yang kukira telah mati, tapi ternyata kembali menyeruak ketika aku berjumpa dengannya.

Perjumpaan di detik-detik terakhir dengan detik-detik awal yang blur. Sungguh momen aneh bagiku. Aku pikir aku bisa menghindarinya. Tapi Tuhan, Kau justru memertemukan kami di posisi yang benar-benar tak terelakkan. Hahaha! Mau berlagak gak ngeliat pun gak bisa.


Well...

Bukan aku yang menginginkan perasaan itu, Tuhan.

Bila ini adalah bagian dari rencana dan kehendakMu, maka aku akan memerjuangkannya.
Bila ini hanyalah sesuatu yang akan mengajariku sisi hidup yang lain, aku akan memelajarinya.

*Tuhan, bila memang dia kau hadirkan untukku,
aku mohon maaf.

Maaf, aku tidak bisa, aku tidak tahu lagi cara memerjuangkannya.

Maaf, karena aku sendiri tidak melihat masa depan yang baik bagi kami berdua.
Maaf, karena aku ragu Kau menginginkannya untukku. Kami berbeda, dia terlalu positif untukku dan aku pun tidak ingin mengotori keceriaan hidupnya dengan hadir sebagai cewek sejuta masalah.

**Tuhan... Bila kehadiran seseorang itu hanyalah pelajaran bagiku, maka biarlah aku indah karena ajaran itu. Aku akan lebih kuat dan dewasa. Asal... Kau berkenan untuk menolongku yang kelewat bodoh ini untuk melepaskannya.

Aku belajar bahwa cinta yang tulus itu mampu mematahkan teori, prinsip dan standardisasi yang ku bangun.
Aku belajar untuk memerjuangkan apa yang kurasa pantas untuk ku perjuangkan. Aku rasa aku sudah cukup mencoba untuk berinteraksi dengannya, namun kesempatan pun bahkan menentang kedekatanku dengannya.

Ia sendiri tidak memerjuangkan aku. Tidak lagi.
Mungkin ia tidak menilai diriku layak atau sesuai untuknya. Mungkin aku hanya pengisi kesepian sesaat baginya.
Mungkin aku hanya sekedar seorang kenalan baginya. Mungkin... Mungkin banyak kemungkinan lain yang bisa membuatku menginap disini bila ku coba simpulkan semuanya.

Apapun alasan dia 'menghilang-begitu-saja', Dia tetap berarti lebih bagiku.
Aku tidak akan membencinya. Ia akan selalu menjadi sosok spesial dalam hidupku. Sosok yang sempurna bagiku. Dia adalah orang yang tepat. Hanya saja Bapa... Tolong buat aku mengerti bahwa dia bukan untukku.

"Bukan mawar yang menghampiri kumbang, bukan cinta bila kau kejar." --> Lirik sebuah lagu.
Benarkah lirik lagu tersebut? Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, bila aku adalah si mawar dan dia adalah si kumbang...
Aku rasa aku adalah mawar yang menggugurkan dirinya untuk seekor kumbang. Mungkin di saat si kumbang lupa atau tidak tahu lagi cara untuk terbang. So... selama si kumbang masih terlalu perkasa untuk mendarat, sepertinya aku tidak boleh mengharapkannya.

Dan baiklah Tuhan, aku tahu aku harus belajar bahwa
segala sesuatu yang indah tidak harus kumiliki. Aku bingung, mengapa pelajaran yang satu ini harus terus kupelajari? Tidak pernah atau belumkah aku lulus di subjek ini? Mengapa semakin aku memelajari hal ini, justru aku semakin bingung, Bapa? Aku jadi tidak tahu sampai dimana dan kapan aku harus berjuang, sampai dimana dan kapan aku harus berhenti.

Bukankah aku sudah sering ditinggalkan, Tuhan? Sampai aku tidak berharap lagi kepada manusia. Namun kau menghadirkannya. Ia mengembalikan harapan yang lagi-lagi, kini terasa palsu. Toh dimana ia sekarang? Meninggalkanku juga, seperti yang lain. Seperti ayahku, seperti orang-orang yang sempat menjadi keluarga, seperti sahabat-sahabatku. Pergi... Dan yeah, Tuhan, Kau pasti tahu, mereka pergi bukan hanya dalam hal jarak fisik. Mereka benar-benar pergi. Mereka MEMUTUSKAN untuk pergi.


Walaupun sering, tetap saja ini sakit, Tuhan. Aku mulai mati rasa. Salahkah aku?

Maaf Tuhan, maaf karena aku bodoh sebodoh-bodohnya. Oleh karena itu Tuhan, aku serahkan padaMu, selalu, dari awal sampai akhir.

Aku tidak harus dan tidak mau mengerti segala sesuatunya. Karena aku bisa gila kalau harus mengerti setiap hal di dunia.
Aku hanya ingin... Kau ada untuku. Jangan tinggalkan aku Tuhan. Kaulah alasanku bertahan hidup sampai saat ini. Entah aku hidup sesat ataupun benar, yang jelas karenaMu, aku disini, Tuhan.

Oh ya, untuk temanku yang ada di ujung sana...
Kami berdua sama-sama kacau Tuhan, hehe... Tapi bila Kau yang berkenan, maka kami pun bisa mengubah dunia menjadi lebih baik. Apapun Tuhan, terjadilah menurut kehendakMu. Amin...
***
Aku pun menyapukan tisu ke pipiku yang basah, cekikikan dalam kekonyolan dengan cewek yang sedang duduk di ujung lain undakan tangga, kemudian kembali menelusuri kota Bandung untuk mencari jalan pulang.




Monday, October 17, 2011

Belajar dari Model Rambut



Beberapa hari yang lalu aku merasa seperti anjing Golden yang berbulu tebal. Rambutku mulai memanjang, tebal, dan rata. Aku yakin gaya rambut seperti itu bisa membuat orang mengira aku adalah kuntilanak Bule-Jepang bila berkeliaran di malam hari mengenakan daster putih. Haha...

Untuk mengatasi kebosanan dengan style rambut seperti ini, aku meminta bantuan pada Pak Modem dan Profesor Google. Segala kata kunci yang kiranya mampu menampilkan gambar potongan rambut untuk dijadikan model telah kucoba. Setelah kira-kira 15 menit, aku menemukannya. 5 potongan rambut favorit. Kemudian aku menyeleksinya lagi menjadi 3 potongan rambut yang paling kuminati. Dan akhirnya... Tarraa!! 1 model rambut milik Mischa Baron adalah pemenangnya.

Keesokan harinya...
Aku membawa model rambut tersebut dalam bentuk foto yang kusimpan di dalam BB. Dengan semangat, aku pergi ke salon di pasar. Salon untuk kelas menengah ke bawah. Irit mode: ON.

Sampai di salon, si pemotong rambut memberitahu, "Airnya mati. Gak ada aer dari kemaren. Gimana?"

Sambil mengunyah pisang goreng yang ia pegang, si pemotong rambut yang memiliki rambut kribo itu memintaku menunggu setelah aku menyetujui rambutku digunting dalam keadaan kering.

Beberapa menit berlalu, akhirnya si kribo melayaniku. Ia mengalungkan kain biru yang panjangnya sampai ke lututku. Prosesi potong rambut dimulai setelah aku menunjukkan model rambut impianku--yang cuma diliat gak lebih dari 4 detik sama si kribo. Pede banget nih tukang potong rambut. Harap-harap cemas dimulai.

Sat set sat set...
Rambut gondrong tebalku mulai dipotong.

17 menit selanjutnya...
Ehm...
Rambutku tidak rata lagi! Yay! Sudah memiliki model yang ruarr biasa beda dari model yang kuingini. Syalalala.. Grrrr.
Nasi uda jadi bubur. Apa pula yang diharapkan dari jasa potong rambut 15 ribu?

Aku pulang... Bete.
Kalau sebelumnya aku seperti anjing Golden, sekarang aku seperti anjing Pudel.
Makian pun aku lontarkan kepada... Tembok.
Itu caraku melampiaskan emosi.
Marah sepuas-puasnya kepada tembok, karena aku tahu, tidaklah bijak untuk memarahi si kribo.
Toh kalaupun aku membunuhnya, model rambutku tidak akan lebih baik.

30 menit kemudian...
Aku menjadikan itu sebagai joke di pembicaraan BBM dengan seorang teman. Orang yang tidak mengenalku biasanya akan bingung dengan sikapku.
Bete-marah-diam-autis-nyengir lagi dalam waktu singkat.
Bahasa kerennya: labil.

Untuk apa pula marah lama-lama?
Dari pengalaman ini, aku menyimpulkan:
Gak ada gunanya marah meledak-ledak untuk suatu kejadian yang telah terjadi. Lebih baik memikirkan langkah ke depan.

Sooooo.. Inilah langkah ke depanku agar merasa nyaman dengan potongan rambut ala pudel ini:

*yakin aja, orang cakep, dibotakin juga tetep cakep. Hoho....

*utak-atik penataan rambut biar terlihat keren.

*mulai mikirin creambath biar rambut cepet panjang.

*berdoa. Hahahaa...

Well... Gak sampai dua hari, aku sudah bisa menerima, bahkan menyukai gaya rambutku.

Mungkin ini terdengar berlebihan untuk suatu momen potong rambut. Tapi ada beberapa pelajaran yang bisa diambil:
*sikap belajar menerima,

*belajar menahan diri untuk tidak memarahi orang yang bersalah,

*hukum permintaan dan penawaran, jangan berharap terlalu tinggi untuk harga yang tidak tinggi.

*belajar untuk mencari solusi,

*belajar untuk mengubah situasi, jadikan hal buruk terlihat baik. Rock the-amazingly-awful haircut!

Pelajaran ini kiranya bisa diterapkan untuk setiap masalah yang dihadapi. Kebijakan tumbuh dari hal-hal kecil. Itulah yang membuat seseorang 'besar'.



Sebuah Kisah untuk Sebuah Hidup

12 Oktober 2011...
Aku tidak tahu lagi bagaimana memasang kembali serpihan-serpihan rapuh di dalam hatiku. Aku pikir aku bisa dan aku sudah mencoba.

Serpihan itu mungkin saja bersatu membentuk kepribadian yang utuh. Tapi ia rapuh.
Ia membutuhkan 'lem' yang bisa menopang, menyatukan dengan kuat setiap serpihan tersebut.

Sehingga...
Kesatuan tersebut tidak hanya sesaat.

Sehingga...
Keutuhan tersebut bisa bertahan lama.

Sehingga...
Ia siap melangkah ke depan.

Aku butuh 'lem' itu. Tapi aku belum menemukannya. Aku lelah mencari. Aku benci hidup ini.
Di kala berdoa pun aku tak tahu harus memohon apa. Kurasa Tuhan bisa-bisa muak dengan permohonanku. Manusia beribu masalah.

Aku menyalahkan diri.
Kenapa?
Karena tidak mungkin hampir semua yang terjadi di dalam hidupku adalah salah. Jadi, aku menyimpulkan, AKU lah yang salah.

Kadang aku berpikir...
Kenapa bukan aku yang sibuk, sehingga tidak memiliki waktu untuk teman-temanku.

Kenapa bukan aku yang lupa ketika memiliki janji dan dengan mudahnya meminta maaf karena tidak bisa memenuhi janji tersebut.

Kenapa bukan aku yang menjadi si nakal tak bisa diatur.

Kenapa bukan aku yang curhat panjang lebar, tetapi ketika sahabatku curhat, aku bahkan tidak tahu ia sudah menceritakan masalah yang sama berulang kali sebelumnya.

Kenapa bukan aku yang cuek?

Jadi orang normal di antara banyaknya orang gila sepertinya tidak berguna, kan? Apa aku yang terlalu egois sehingga berkesimpulan mengenai siapa yang gila, siapa yang normal?

Sejujurnya, dunia ini,
Well, mungkin hanya duniaku,
Yang membuatku bingung mana yang benar, mana yang salah.

Ini seperti menyudutkanku pada pemilihan antara mau jadi orang baik tapi teraniaya, atau mau menjadi orang licik tapi bertahan.

See? Jadi, mungkin permasalahannya adalah... AKU.
Aku dan sudut pandangku. Aku dan logikaku. Aku dan hatiku.
Ya, salahkan aku.

Pada 12 Oktober ini, aku mengetik:
"eid annaw I" pada status BBM ku.
Suatu hal emosional yang bodoh yang pernah ku publikasi. Dan aku mengulanginya lagi. Ya, saat ini. Saat kau membaca ini.

13 Oktober 2011...
Seorang kakek asing memberitahuku,
Seorang wanita muda mengajariku,
Sebuah kisah, kembali meneteskan embun di padang gurun dalam kehidupanku.

Aku mendapati bahwa...

Ya, hidup ini kejam.
Tapi... keindahan dalam hidup justru baru bisa dirasakan ketika kekejaman itu ada. Kita tidak akan tahu bahwa gula itu manis kalau tidak pernah mencoba garam, kopi, dan tawarnya suatu rasa.

Ya, melepaskan masa lalu tidaklah semudah membuang barang-barang dari bagasi mobil, kemudian tinggal menginjak gas, lalu melaju ke depan.
Tapi... Siapa bilang masa lalu itu harus dibuang? Siapa bilang barang-barang di bagasi harus dibuang?
Kita bisa mengubur masa lalu di dalam hati kita. Hadapi, simpan!

Segala kenangan adalah milik kita, untuk apa dibuang? Takut sakit kalo inget? Takut serpihan-serpihan yang udah susah payah disusun, rontok begitu aja karena tersenggol kenangan?

Setiap kenangan, manis maupun pahit, keduanya membuat hidup kita memiliki KISAH ketika memiliki segalanya di dunia belum tentu menjadikan kita memiliki kisah.

Berterima kasihlah pada masa lalu atas kenangan yang terukir.
Berterima kasihlah pada saat ini atas kenangan yang menjadi inspirasi dan pegangan.
Berterima kasihlah pada masa depan atas tantangannya kepada kita untuk menggunakan kenangan sebagai mesin gerak. Mesin penghasil motivasi. Penghasil... Harapan...

Ya, semua memang bisa saja di luar harapan.
Tapi... Bukan berarti harapan itu sendiri tidak bisa dibangun ulang. Kalau hari ini membuat kue gosong, besok masih bisa buat lagi yang baru.

Takut gak mendapat kesempatan yang sama?
Kenapa pula harus mendapat kesempatan yang sama kalau bisa menciptakan kesempatan yang lebih baik?
Selebihnya, kita memang gak bisa mengontrol apa yang akan terjadi pada setiap kesempatan itu. Tapi kita bisa mengendalikan apa dan bagaimana kita merespon mereka. So... Balik lagi ke: Diri Sendiri.

Ya, mencintai orang dengan tulus kadang berakhir pada kekecewaan.
Tapi... Walaupun cinta yang kita berikan tidak berbalik sesuai harapan. Percayalah... Benih yang baik akan menghasilkan buah yang baik.

Jangan takut mencintai dengan tulus, cinta itu akan berbalik. Pasti berbalik, walaupun bukan dari orang yang sama, bukan di tempat yang sama, dan bukan pada waktu yang sama. Ia akan berbalik di waktu, tempat, dan oleh orang yang lebih tepat.

Tuesday, September 20, 2011

Boys and Girls


Bergaul dengan kaum Adam…

*Membuat gue ngerti kenapa mereka gak bisa dipaksa untuk TIDAK melirik ke cewek lain selain pasangan mereka. Ini sama aja menuntut cewek untuk gak melirik ke tulisan “SALE”.

*Gue ngerti cewek-cewek sekarang luar biasa, banyak yang cantik, banyak yang menarik dengan pesona masing-masing. Sungguh godaan buat para cowok. Ini seperti kucing lapar di antara para ikan montok. Ehmm… tapi cowok bukan kucing kan?

“Beautiful girls, all over the world,

I could be chasin’, but my time would be wasted,

They’ve got nothin’ on you, babe.”

Potongan lirik lagu di atas menjadi bukti kalau cowok bukan kucing. Yang namanya cowok, kalo uda jatuh cinta, bakal fokus juga kok ke cewek yang dia sayang. HANYA SAJA… gak tau berapa lama. Hehe…

*Kadang gue iri sama cowok. Emang dari segi biologis, otak mereka terancang untuk bisa memusatkan perhatian ke satu hal. Sementara kalo cewek, normalnya bisa memikirkan banyak hal sekaligus, apalagi, agaknya ada jembatan bertekanan listrik tinggi antara hati dan otak para kaum hawa. Sehingga, ya… you know, cewek menjadi makhluk yang terkesan emosional secara positif maupun negatif. Bagi yang pernah punya parner, dosen, atau bos cewek pasti lebih ngerti lah. Even cowok yang feminin pun bisa memisahkan perasaan sama logika.

*Cowok yang berduit biasanya cenderung punya keinginan untuk membelikan sesuatu ke cewek yang dia suka. Hey boys, don’t “buy” your girls. Gak pake muna, gue sadar cewek cuma manusia biasa. Dibeliin berlian? Ya seneng! Tapi kalo udah nyandu? Terus jadi matre karena dibiasain “sogokan” material???? Siapa yang rugi? Kau yang menabur, kau yang menuai lho.

*Rata-rata, cowok suka cewek yang manis, lembut, mandiri, dan agak manja. Manis biar enak dilihat, lembut biar enak untuk bermanja-manja ria (ini juga yang bedain mana pacar mana teman cowok), mandiri biar gak terlalu repot urusin hal kecil yang menurut cowok kurang penting, dan di satu sisi cowok mau lebih “laki” (tanpa harus minum minuman yang diiklanin di tv) di mata ceweknya. So… mereka juga suka sama cewek yang tau kapan, dimana, dan bagaimana cara bermanja-manja.

*Cowok suka bersentuhan dengan cewek yang dia suka. Dari sentuhan kecil sampai sentuhan mendalam. Hoho… ini tergantung budaya sih. Kalo gue tanyain ke para cowok bule, yaaaa mereka melihat hal ini biasa. Tapi untuk budaya timur, hasil riset individual (halah) menunjukkan kalo cowok yang serius cinte sama ceweknya, justru gak bakal menuntut sentuhan yang “mendalam” ke si cewek sampai mereka terikat komitmen yang disetujui kedua belah pihak sampe keluarga. Nah…. Kalo si cewek yang kegatelan… sukur-sukur si cowok bisa nahan, kalo gak… paling si cowok memandang si cewek sebagai bahan eksplorasi.

But wait… kejadian di atas terjadi secara umum lho ya. Yang namanya kekuatan cinta yang membutakan, kita gak pernah tau. Ada juga kok temen cowok yang punya jiwa responsible yang tinggi. Yang ibaratnya, kalo biasanya habis manis permen karet dibuang, kalo sama dia, malah disimpen dan dirawat. Hahaa.. oke, gue gak jago soal analogi. Intinya, ada juga cowok yang merasa bertanggung-jawab atas cewek yang pernah ia sentuh secara ”mendalam” (even si cewek belum hamil) instead of judging the girl as a bitch. Marilah kita sebut si cowok yang begini sebagai… “Keajaiban”.

*Cowok suka bereksperimen sampe dia nemuin cewek yang benar-benar dia suka. Kalo BIASANYA cewek secara intuitif menemukan cowok yang dia cintai, cowok BIASANYA suka melakukan eksplorasi ke beberapa cewek terlebih dahulu. Untuk urusan cinta, kaum Adam emang agak lemot nih kayaknya.

Sebagai cewek, gue GAK PERNAH ditolak. Bangga? Kagak!

Berhubung gue tipe cewek maskulin, gue lebih suka “berburu” daripada “dikejar”. Tapi gue sadar diri, so gue gak bakal ngejar dengan gaya maniak. Peace *nyengir kuda. Naaah… dari pengalaman ngejar kaum Adam, mereka yang gue kejar sepertinya entah kasihan atau entah gak rela kehilangan gue sebagai “fan” mereka, mereka tuh gak mau nolak gue secara lebih jelas.

Yang ada gue merasa “digantung”, mikir, ni cowok mau apa kagak? Kalo GAK MAU, kenapa dia perhatian balik dengan keep in touch SETIAP HARI? Kenapa dia rela jemput gue dari tempat yang jauh? KALO MAU, kenapa proses pendekatannya kagak maju-maju? Kenapa Cuma begini terus? Eaa… galau tingkat kecamatan.

Setelah gue nanya-nanya ke para spesies sejenis, ternyata ya emang mereka cenderung bisa pendekatan ke beberapa cewek sekaligus, untuk kemudian membandingkan, mana yang menurut mereka terbaik dan paling cocok sama mereka. Greeeaaat…

*Entah kenapa, cowok tanpa sadar melakukan hal romantis yang sering dianggap cewek sebagai gombalan. Wkwkwk… mungkin karena para cowok suka melakukan hal romantis ke beberapa cewek sekaligus ya? Even cuma sekedar sapaan di pagi hari atau pertanyaan uda makan apa belom. Bagi mereka, itu mah BIASAAAA.

*Bergaul dengan kaum Adam emang lebih fun karena jarang membahas soal permasalahan hati. Jarang lho ya, bukan gak pernah sama sekali. Kalo mereka lagi galau, biasanya gue menjumpai persamaan antara cowok dan cewek. Haha… emang pada dasarnya sama-sama manusia kali ya? Jadi pasti ada kemiripan.

Bergaul dengan kaum Adam lebih konyol, siap-siap deh untuk menyingkirkan rasa sensi. Untuk urusan verbal, cowok biasanya lebih frontal. Bakal banyak istilah baru yang cuma dipahami “genk” sendiri, kalo uda ngomongin cewek, lama-lama kok ujung-ujungnya nyinggung soal biologis? Hahaa… istilah-istilah teknis/ otomotif dan obrolan seputar olahraga pun biasanya jadi topik fave, disamping candaan yang gak jelas tapi bikin ngakak secara brutal.

Bergaul dengan kaum Adam kadang menimbulkan perasaan punya bodyguard. Kalo jalan sama temen cewek, biasanya gue ngalah, tempat duduk kosong di trans Jakarta yang penuh biasanya gue kasih ke temen cewek gue. Tapi kalo sama cowok? Gue yang bakal duduk. Hehe… kalo nyebrang jalan juga biasanya mereka yang jadi pemandu. Dan ini nih yang lebih asik: Gak ada alay/ abang-abang yang berani godaiin! Oh, nyamannya hidup. Hahaa… Kalo ada temen cowok yang emang pembawaannya sweet, mereka biasanya juga bukain pintu lhoo, entah pintu mobil, pintu keluar-masuk gedung, sampe pintu toilet. Ehm… gue ngibul soal pintu yang terakhir, okay?

Bergaul dengan kaum Hawa….

*Sebagai sesama cewek, gue akui, cewek itu… ribet! Haha! Makanya nih, gue saranin buat kaum Adam, sebenernya, kalian gak perlu kok menganalisis apa sih yang sebenernya cewek mau. Apalagi kalau mau menjadikan hal itu bahan skripsi. Gue jamin, kau terancam menjadi mahasiswa abadi, nak. :p

Cewek itu punya perasaan yang peka. Dan tanpa alasan yang logis, kadang cewek bisa mendeteksi adanya hal yang gak beres dengan orang-orang yang mereka cintai. Jangankan yang mereka cintai, musuh pun bisa.

Suka bete sama sikap cewek yang gak karuan kalo lagi dapet tamu bulanan? Ehm… percaya sama gue, kau bakal LEBIH bete kalo dirimu sendiri yang harus menangani tamu bulanan tersebut. Dari sakit fisik, sensitivitas yang meningkat, semua campur aduk, menyebabkan sensasi setengah gila yang bikin cewek sendiri kadang gak ngerti dan gak bisa handle apa yang mereka lakuin. Syalalala…

Tapi justru di saat-saat seperti ini, sikap dan manipulasi kaum Adam lebih bisa terungkap. Hoho.. hati-hati, dude.

*Ya, komitmen, atau sekedar jaminan cowok untuk serius adalah hal berharga buat kaum hawa. Bukan berarti semua cewek nuntut dinikahin kok.

Pernah nemu kasus ketemuan sama bokap cewek menjadikan si cowok deg-degan? Kenapa BOKAP cewek itu cenderung lebih hati-hati sama cowok anaknya? Itu karena…. Mereka sama-sama COWOK! Haha… ironis emang. Mereka sama-sama tau, kalau cowok itu makhluk yang perlu disikapi dengan HATI-HATI. Kalo sesama cowok aja (bokap cewek ke pacar si cewek) bisa begitu, salahkah kaum hawa menuntut komitmen atau janji yang menjamin rasa “aman” mereka dalam berhubungan with you guys?

*Bergaul dengan kaum Adam emang bisa jadi lebih seru, lebih penuh petualangan dan hal gila. Tapi bergaul dengan kaum Hawa, lebih mengajarkan gue warna-warni hidup. Inilah mengapa gue mengerti “Dibalik kesuksesan pria, ada wanita hebat.”

Kalo biasanya cowok curhat untuk mendapatkan solusi atau untuk membantu mereka mendapatkan sudut pandang berpikir yang baru, cewek curhat untuk berbagi kisahnya. Itulah yang gue rasain ketika temen-temen gue curhat (Since gue sendiri termasuk kayak cowok: curhat untuk dapet solusi). Makanya, kalo temen cewek gue stress, biasanya gue juga ikutan stress. Haha!

*Kenapa cewek lebih bisa setia? (walaupun gak menutup kemungkinan banyaknya cewek jaman sekarang yang juga bajingan). Maybe karena daya tarik cowok itu gak “visible” seperti daya tarik cewek atau cewek lebih tertarik kepada apa yang cowok lakuin, bukan kepada penampilan. Cowok ganteng tapi sikap melambai? Lewaaat….

Dari pengamatan gue, bahkan seorang pelacurpun bisa setia. Asaal… ada cowok yang BERANI bersedia berada untuknya, dan… berhubung biasanya pelacuran erat kaitannya dengan ekonomi.. ya mungkin mereka juga butuh jaminan uang ketika “cinta aja gak cukup”.

*Buat cewek, sentuhan dari cowok bisa memutar-balikan dunia sementara bagi cowok itu mungkin sekedar memutar-balikan isi kepala mereka. Hal ini kembali ke budaya juga sih. Untuk budaya yang masih menjunjung tinggi virginity sebagai suatu kehormatan yang harus dijaga…

Cinta itu buta, rasa sayang dengan kekuatan magisnya kadang gak selalu bisa ditangkis cewek. Apalagi kalo menurut mereka si cowok udah jodohnya, udah menjadi bagian dari hidupnya, udah menjadi aliran darah dalam tubuhnya. Kalo udah begini, rasa ingin “menyerahkan diri” pasti pernah muncul. Well, cinta boleh buta, tapi kita gak boleh. Mungkin ada maksud dibalik tujuan Tuhan menciptakan manusia dengan letak otak lebih atas daripada letak hati. Agar gak selamanya hati yang mengontrol manusia, tapi juga logika? Maybe? Siapalah gue yang berani-beraninya menyimpulkan demikian? YOU tell me, fellas! J

*Cinta itu buta. Kadang logika tau dan terus-menerus nasihat-in agar cewek berhati-hati ke cowok (apalagi yang emang punya sejuta pesona, yang sekali senyum aja bisa mencairkan kutub selatan). Tapi cinta membuat cewek bodoh, berulang kali ia membuat cewek memaafkan kesalahan yang sama yang dibuat cowok (yang mungkin di kepala cowok cuma “Ah, telat doang, gak usah jadi drama queen lah.”, “Ah, aku kan cuma pengen bersikap ramah sama cewek itu, dia kan cuma temen.”).



***

Gue pernah menghadapi situasi dimana cowok temen gue atau cewek temen gue selingkuh. Sumpah, bingung banget gimana harus nanggepin.

Kalo si orang yang berselingkuh emang brengsek, gue sih dengan provokatif bakal menyarankan temen gue untuk putus. Tapiiii….. kalo mereka adalah orang yang sudah bertahun-tahun setia? Orang-orang yang di mata gue sendiri adalah pasangan yang sangat amat tepat untuk melengkapi kehidupan temen-temen gue itu? Gue pun ikut galau, saudara-saudara.

Di satu sisi, gue gak buta-buta amat kok soal cowok. Toh gue punya temen-temen cowok yang dengan bodohnya (sorry guys, hehe), mau membeberkan rahasia dan sisi gelap mereka sebagai kaum Adam. Gue bisa kok ngerti kalo di satu poin tertentu, cowok suka menebar pesona, untuk menunjukkan ke-macho-an mereka dari segi penampilan atau skill, atau keduanya. Cowok suka bereksplorasi tentang cewek, melakukan uji coba tak terencana untuk sadar atau gak disadari, ngebuat cewek “nyantol”, termasuk pake deodorant perfume merek “Kapak” yang menjanjikan bahwa bahkan malaikat sexy pun bakal turun ke bumi dan “nyantol” ke si pengguna parfum. Giliran digoda balik sama cewek dengan sejuta pesona, mereka kebingungan. Emang gak cewek, gak cowok, aneh semua lah. Haha…

Di satu sisi, gue ngerti, sebagai cewek yang mungkin di”cap” lebay karena ngambek ngeliat cowoknya ngelirik ke cewek lain lebih dari semenit, gue ngerti betapa gak enaknya nunggu berjam-jam terus pas ditelpon, malah diboongin: “Babe, udah nyampe mana?” // “Udah mau nyampe kok.” // Padahal si cowok baru melek. Gue ngerti betapa menyebalkannya menemukan hasil “chat” dimana si cowok lagi asik ber”sayang”-“sayang” ria. Bagi cowok, mungkin itu cuma kebodohan belaka, iseng, becanda, dll. Tapi bagi cewek? It means more. Dan kalo uda tau cewek itu gampang cemburu, ngapain juga mancing? Kalo udah tau sering flirting sama cewek, ngapain ngaku punya facebook? Salah gue? Salah temen-temen gue? Halah…

Okelah, mungkin kasus Mars vs Venus emang udah jadi keindahan tersendiri bagi kehidupan manusia, semua gak harus sesuai yang kita harapkan. Adanya masalah justru membuat kita semakin dewasa dalam berpikir dan bertindak. Belajar saling menghargai itu yang penting. Baik cowok maupun cewek sama-sama manusia berperasaan, kalo gak mau disakiti, belajarlah untuk tidak menyakiti. Teorinya gampanglah ya? Prakteknya???? YOU tell me, fellas!

***

Bagaimana bisa berlari bila kau tidak berani berjalan?

Bagaimana bisa bernyanyi bila berbicara saja malu?

Bagaimana kau tahu cinta itu indah bila kau tidak tau takarannya?

Love is beautiful because it teaches us what the pain is,

So that we can learn how great the happiness is.



Monday, September 19, 2011

About A Girl named... Lucky.

Salahkah aku memiliki mimpi?

Aku lahir, sementara saudari kembarku memutuskan untuk menyerah. Itu menandakan aku berhasil untuk memertahankan hidup. Walaupun sepertinya ada yang hilang.

Aku sukses melewati TK, SD, SLTP, dan SMA. Aku mendapatkan label “Si Pendiam Super Jenius” dari teman-temanku dan “Si Diam-diam - Menghanyutkan” dari sahabatku. Hmmm kurasa itu merupakan bentuk kesuksesan yang lain. Aku juga aktif mengikuti lomba dan kegiatan: menari, voli, catur, tae kwon do, bahasa asing, cerdas cermat, dll.

Aku seorang mahasiswi. Aku mendapatkan beasiswa! Aku sukses meringankan beban ekonomi keluarga dan memberikan kebanggaan pada keluarga! Thank God! Aku terobsesi mengoleksi nilai A! Aku cinta huruf “A”!!!!

Aku sering dikagumi. Aku terlihat sombong, pelit, dan dingin.

….

Aku lelah. Segala usaha untuk menjadi yang terbaik, untuk dikagumi, itu hanyalah untuk menutupi lubang hitam dalam diriku. Aku melakukannya untuk orang yang ku cintai.

Untuk dia yang hebat, dia yang menanggung orang tua dan sepuluh orang saudaranya, dia yang dihancurkan pria yang mencuri hatinya, dia yang banyak membantu teman-temannya, dia yang akhirnya ditinggalkan. Dia, ibuku.

Aku menjauhi masalah, bermain di zona yang aman, menjadi pelajar yang baik. Demi dia, wanita agung dalam hidupku. Pria yang menyumbangkan DNA-nya kepada diriku itu telah cukup membuat masalah tanpa ku harus mewarisi keahliannya untuk menyakiti ibuku.

Wanita perkasa itu,

dia yang hanya berbangga sesaat, dia yang tuntutannya semakin besar seiring aku dewasa.

Dia…. Yan g sepertinya sulit untuk ku bahagiakan. Dia yang kebahagiaannya seperti mati bersama kekasih yang memberinya seorang anak perempuan itu. Putri satu-satunya itu.

Aku pun lelah… untuk menjadi yang terbaik, untuk bisa ini-itu tapi untuk apa? Berada di puncak tidak bisa menjamin kebahagiaan.

Aku bahagia justru ketika aku tidak peduli apa penilaian orang, melakukan hal gila, sekedar bernyanyi tidak jelas sambil menelusuri jalan yang diselimuti hiruk pikuk jalanan ibukota. Aku bahagia ketika kasih sayang dan perhatianku diterima orang lain. Orang yang juga merindukan untuk diterima apa adanya.

Aku bahagia ketika aku bebas menjadi diri sendiri, ketika aku jauh dari wanita perkasa itu, wanita yang darahnya mengalir dalam tubuhku yang seperti tak memiliki kehidupan lagi.

Hidup tidak semudah berlogika. Tidak semudah mendapatkan nilai “A” untuk secarik kertas yang disebut “Ijasah”.

Ketika logika bertemu cinta… semua pun tak bisa terduga. Yang pintar menjadi bodoh. Itulah dunia. Ia indah karena tidak semuanya pintar dan benar. Ia indah dengan sejuta perbedaannya.